Rabu, 15 Oktober 2014

Pemahaman yang Salah Tentang Kasta di Bali


Sampai saat ini umat Hindu di Indonesia khususnya di Bali masih mengalami polemik masalah Kasta. Hal ini menyebabkan ketidaksetaraan status sosial diantara masyarakat Hindu. Masalah ini muncul karena pengetahuan dan pemahaman yang dangkal tentang ajaran Agama Hindu dan Kitab Suci Weda yang merupakan pedoman yang  paling ampuh bagi umat Hindu agar  menjadi manusia yang beradab yaitu memiliki kemampuan bergerak (bayu), bersuara (sabda) dan berpikir (idep) dan berbudaya yaitu menghormati sesama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa tanpa membedakan asal usul keturunan, status sosial, dan ekonomi.
Pada masyarakat Hindu di  Bali,terjadi  kesalahan dan kekaburan dalam pemahaman dan pemaknaan warna, kasta, dan wangsa yang berkepanjangan. Dalam agama Hindu tidak dikenal istilah Kasta. Istilah yang termuat dalam kitab suci Veda adalah Warna. Apabila kita mengacu pada Kitab Bhagavadgita, maka yang dimaksud dengan Warna adalah Catur Warna, yakni pembagian masyarakat menurut Swadharma (profesi) masing-masing orang. Sementara itu, yang muncul dalam kehidupan masyarakat Bali adalah Wangsa, yaitu sistem kekeluargaan yang diatur menurut garis keturunan. Wangsa tidak menunjukkan stratifikasi sosial yang sifatnya vertikal (dalam arti ada satu Wangsa yang lebih tinggi dari Wangsa yang lain). Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada warga masyarakat yang memiliki pandangan bahwa ada suatu Wangsa yang dianggap lebih tinggi daripada Wangsa yang lain. Untuk merubah pandangan seperti ini memang perlu sosialisasi dan penyamaan persepsi. Oleh karena itu, lebih baik tidak diperdebatkan lagi.
Wiana (2000) menjelaskan perbedaan antara warna dan kasta. Warnamerupakan penggolongan masyarakat berdasarkan fungsi dan profesi. Dalam ajaran Agama Hindu dikenal adanya empat warna/Catur Warna yaitubrahmana-orang-orang yang bertugas untuk memberikan pembinaan mental dan rohani serta spiritual, ksatria-orang orang yang bertugas untuk mengatur negara dan pemerintahan serta rakyatnya, waisya-orang yang bertugas untuk mengatur perekonomian, dan sudra-orang yang bertugas untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan menjadi pelayan atau pembantu orang lain.
Warna dan gelar serta namanya sama sekali tidak diturunkan atau diwariskan ke generasi berikutnya. Warna tidak bersifat statis, tetapi dinamis. Artinya, warna bisa berubah setiap saat sesuai dengan fungsi dan profesinya, sebagai contoh; seorang yang berasal dari golongan sudra karena ketekunannya dalam belajar dan bekerja berhasil menjadi seorang polisi atau tentara maka secara otomatis golongannya meningkat menjadi seorang ksatria yang bertugas untuk membela dan mempertahankan kedaulatan negara. Bisa saja seorang brahmana yang melakukan tindak kejahatan seperti; pencurian, pemerkosaan, perjinahan dan tinakan melawan hukum lainnya turun derajatnya menjadi golongan yang lebih dan bahkan paling rendah karena perbuatannya sehingga harus menjalani hukuman penjara dan setelah selesai menjalani hukuman akan kembali bergabung dengan masyarakat dan tidak tahu lagi akan menjadi bergelut dalam bidang apa.
Hubungan di antara golongan pada warna hanya dibatasi oleh “dharma”-kewajiban yang berbeda-beda tetapi menuju satu tujuan yakni kesempurnaan hidup. Jadi, catur warna sama sekali tidak membeda-bedakan harkat dan martabat manusia dan memberikan manusia untuk mencari jalan hidup dan bekerja sesuai dengan sifat, bakat, dan pembawaannya sejak lahir hingga akhir hayatnya.
Sedangkan kasta merupakan penggolongan status sosial masyarakat dengan mengadopsi konsep catur warna (brahmana, ksatria, wesyia, dan sudra) yang gelar dan atribut namanya diturunkan dan diwariskan ke generasi berikutnya. Artinya, walaupun keturunannya tidak lagi berprofesi sebagai pendeta atau pedanda tetapi masih menggunakan gelar dan nama yang dimiliki leluhurnya yang dulunya menjadi pendeta atau pedanda. Ini sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang yang belum tentu atau tidak memiliki sifat-sifat brahmana harus disebut sebagai brahmana, dan juga terjadi pada kasta yang lainnya.
Terlebih lagi nama dan gelar warisan masing-masing leluhurnya sekarang ini semakin diagung-agungkan dan digunakan untuk mempertajam kesenjangan di antara golongan kasta yang ada. Tetapi, jika nama dan gelarnya yang dipakai keturunannya hanya dijadikan sebagai tanda penghormatan kepada leluhurnya, maka tindakan ini merupakan tindakan yang sangat mulia dan terhormat.
Konsep kasta sangat bertentangan dengan konsep warna dalam ajaran agama hindu. Namun, kesalahan pemahaman tentang kasta dan warna masih saja terjadi dan terus berlangsung hingga sekarang ini. Jika terjadi kesalahpahaman yang berkelanjutan maka tidak tertutup kemungkinan akan terjadi konflik,  perpecahan, dan kekacauan di masa yang akan datang.
Tidak dapat dipungkiri banyak konflik yang terjadi akibat perbedaan kasta ini, seperti Konflik antar masyarakat yang terjadi pada Bulan Maret 2007 diDesa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung-Bali merupakan salah satu buntut dari tidak harmonisnya hubungan antara kaum brahmana dan sudra. Puluhan rumah kaum “kasta brahmana” dirusak dan dihanguskan oleh masyarakat sehingga masyarakat yang rumahnya hancur harus dievakuasi dan diamankan serta ditampung di MAPOLRES (Markas Polisi Resor) Klungkung. Perlu dipertanyakan kenapa ini terjadi? Tak bisa dibayangkan lagi bagaimana benci dan marahnya masyarakat terhadap kaum brahmana sehingga tega melakukan hal-hal yang anarkis ini. Belum ada penjelasan dari aparat berwenang mengenai penyebab kejadian ini. Walaupun demikian, patut diacungi jempol para masyarakat di sana bisa berdamai dan hidup berdampiangan kembali serta membuat pernyataan damai di antara masyarakat yang berkonflik.
Dari penjelasan diatas jelas sudah perbedaan pandangan mengenai kasta, warna, dan wangsa. Kita sebagai umat Hindu yang memiliki intelektual sudah menjadi kewajiban memahami konsep ini agar tidak terjadi pandangan yang salah yang dapat menyebabkan kesenjangan sosial antarumat Hindu lebih-lebih bisa menyebabkan konflik yang berkepanjangan. Namun, sekarang ini nampaknya ada usaha-usaha untuk semakin mempertajam kesenjangan umat Hindu khususnya di Bali. Sebagai contoh mengenai pembagian wewenang, hak dan kewajiban pendeta.Pedanda (pendeta yang berasal dari kalangan Kasta Brahmana) memiliki wewenang yang jauh lebih tinggi dari pada pemangku (pendeta yang berasal dari Kasta Sudra). Pendanda bisa menyelesaikan kelima upacara keagamaan yang ada dalam agama hindu di Bali yang lazim disebut sebagai Panca Yadnya yaitu:
1 Dewa yadnya-upacara keagamaan yang ditujukan kepada Tuhan dan manifestasinya seperti odalan di pura-pura baik pura sad khayangan (pura umum yang bisa dikunjungi dan disembahyangi oleh semua umat hindu tanpa membedakan asal-usul keturunan) pura dang kayangan (pura yang sempat disinggahi oleh Dang Hyang Niratha-penyebar Agama Hindu dari Jawa) maupun pura keluarga atau merajan;
2 Rsi yadnya-upacara keagamaan yang ditujukan untuk para rsi atau upacara penyucian manusia seperti upacara dwi jadi (pengukuhan stutus dari masyarakat biasa menjadi pedanda atau pemangku);
3 Manusia yadnya-upacara keagamaan yang ditujukan untuk manusia seperti upacara bayi tujuh bulan dalam kandungan (magedong-gedongan), upacara satu bulan tujuh hari setelah bayi lahir (tutug kambuhan), upacara tiga bulan setelah bayi lahir (nelu bulanin), enam bulan setelah lahir (otonan), upacara potong gigi, dan upacara pernikahan (mewidhi- wedhana);
4 Pitra yadnya-upacara yang ditujukan kepada pitara atau orang yang sudah meninggal seperti upacara ngaben, ngeroras, dan nuntun;
5 Butha yadnya-upacara yang ditujukan kepada bhuta kala yang bertujuan untuk menyeimbangkan dunia dari pengaruh positif dan negatif.
Sedangkan pendeta yang berasal dari kalangan kasta lain tidak bisa menyelesaikan kelima upacara agama tersebut di atas. Pembagian wewenang ini tanpa berlandaskan sumber yang jelas dan sering kali berasal dari justifikasi dan penapsiran orang atau kalangan tertentu saja.
Sistem pembagian tugas dan wewenang pendeta ini hanya cocok diberlakukan di Bali saja karena tidak semua umat Hindu di seluruh Indonesia maupun dunia memiliki pendeta yang berasal dari golongan kasta brahmana.
Dalam Bhagawad Gita secara jelas disebutkan bahwa dasar persembahan kepada Tuhan adalah “keiklasan” dan sama sekali tidak berdasarkan besar atau kecilnya persembahan dan siapa yang menyelesaikan upacara karena semua manusia sama di hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Apa yang dijelaskan di dalam ajaran suci Agama Hindu ini juga mempertegas bahwa tidak ada perbedaan di antara kita semua. Kita semua mahluk Tuhan dan tak perlu lagi ada pengkotak-kotakan yang berakibat pada perpecahan.



Sumber           :           Artikel Hindu

Riwayat Kompas Anti Islam

HM Aru Syeif Assadullah Pemred Tabloid Suara Islam

Belakangan semenjak Pemilihan Presiden 9 Juli 2014, bangsa Indonesia terbelah pula dukungan antara pro Prabowo dan Joko Widodo. Polarisasi ini justru mengental sampai  menjelang pelantikan presiden Joko Widodo 20 Oktober 2014 yang akan datang. Koalisi Merah Putih (pendukung Prabowo) yang dikira akan segera bubar dan masing-masing diduga akan ‘merapat’ ke kubu Joko Widodo, ternyata malah semakin kokoh bersatu dan memenangkan pertarungan di DPR, mengalahkan kubu PDI-Joko Widodo dengan menggoalkan UU Pilkada dengan mengganti Pilkada langsung dengan diganti dipilih DPRD. Kubu Prabowo dengan Koalisi Merah Putihnya merepresentasikan sebagai kubu kekuatan kelompok Islam dan kebangsaan. Sementara kubu Joko Widodo menampung aspirasi nasionalis, Kristen-Katolik dan aliran Kiri.
Adalah harian milik misi Katolik : Kompas dengan sangat Spartan menempatkan diri dalam posisi mendukung kubu Joko Widodo. Identik dengan dukungan ini, suara minor bahkan anti kepada aspirasi Islam pun disemprotkan dengan kencang. Kendati Kompas selama ini dikenal sebagai koran yang selalu mengedepankan bahasa yang halus untuk melancarkan missinya yang terselubung, namun akhir-akhir ini ciri khas Kompas itu hilang sudah. Kini wajah Kompas semakin mengeras dan terang-terangan ‘melawan’ aspirasi Islam. Atas nama membela kepentingan kubu Joko Widodo Kompas yang menjadi ‘komando’ media massa termasuk hampir semua media elektronika-TV itu,  makin berani ‘menyerang’ kepentingan Islam. Bahasa  gaya menyindir, yang halus sudah ditinggalkan diganti terang-terangan menyebut berbagai kasus pelecehan seks dilakukan kyai, guru ngaji dan semacamnya. Dahulu Kompas menyindir pelaku pelacuran dengan menyebut para pelacur di Batam dengan nama samaran : Siti Fatimah, Ummi Khalsoum. Pertanyaannya mengapa tidak disebutkan dengan nama samaran orang Kristen misalnya : Deborah, Fransisca, Agnes? Mereka sengaja mendiskreditkan Islam dengan pemberitaan itu.
Riwayat harian Kompas yang anti kepada Islam,catatan faktual yang bisa diungkapkan niscaya sangat panjang. Ingat saja pada 1990 peristiwa penghinaan tabloid Monitor—terbitan kelompok Kompas—terhadap Nabi Muhammad Saw yang membawa Arswendo Atmowiloto masuk bui. Kasus Monitor yang membuka karakter asli Kompas, yakni membenci kepada Islam dengan menghina Nabi Muhammad Saw, sebenarnya tidak cukup sekadar memenjarakan Arswendo. Sehingga Kompas niscaya “tertawa” sinis dengan hukuman sangat ringan itu. Ingat di kalangan gereja  Inggris dan Eropa—pada abad Pertengahan-- dikenal penghinaan kepada Kristen dengan hukuman blasphemy, di mana pelaku dihukum mati dengan cara tubuhnya dikoyak menjadi empat bagian setelah diikat tangan dan kakinya oleh kuda, seraya kuda dipaksa untuk berlari ke empat penjuru sehingga tubuh Sang Pendosa agama ini tercabik menjadi empat bagian yang mengerikan. Karena sanksi yang ringan inilah Kompas semakin berani melecehkan apa saja berkaitan dengan aspirasi Islam di Indonesia. 
Tidak lama setelah kasus Monitor dengan lebih berani Kompas melancarkan tuduhan : “Ijo Loyo-Loyo” bagi umat Islam yang pada 1990-an awal semakin bersahabat dengan pemerintahan Soeharto.  Sebenarnya kedekatan Soeharto dengan kelompok Islam sudah dimulai sejak 1987 dan tercermin pada hasil Pemilu 1987, di mana Golkar atas perintah Soeharto melakukan ‘pembersihan’ kepada anggota-pimpinan Golkar dari Kristen diganti Islam. Sebenarnya, Soeharto hanya membuat keseimbangan anggota DPR dan anggota kabinet pembantunya mulai disusun secara proporsional—sesuai jumlah agama penduduk di Indonesia yang mayoritas Islam--, karena sebelumnya sejak 1967, selalu dominan orang-orang Kristen. Perubahan ini selalu dijelaskan oleh Habibie sebagai pemerintah ingin mengikuti asas proporsional, walau ternyata belum proporsional mutlak.
Memang terjadi perubahan cukup mencolok sejak 1988 itu, menteri-menteri bidang ekonomi yang langganan dijabat tokoh Kristen diganti sama sekali. Hilanglah menteri-menteri Kristen mulai : JB. Sumarlin, Frans Seda, Radius Prawiro, Adrianus Mooy, juga yang Islam namun bersekutu dengan Kristen misalnya Widjojo Nitisastro,Ali Wardana, Emil Salim, Saleh Afif dan seterusnya. Jabatan strategis pimpinan ABRI pun mulai ditanggalkan yang semula di tangan jenderal-jenderal Kristen, seperti Panggabean, Benny Moerdany, Sudomo, diganti  jendral yang Muslim, mulai Feisal Tanjung, R. Hartono, Sjafrie Sjamsoeddin sampai Prabowo Subianto. 
Ihwal perubahan politik Soeharto yang pro dan bersahabat dengan Islam ini pun ditandai langkah nyata semakin memperhatikan aspirasi Islam misalnya : melakukan kodifikasi hukum Islam yang menjadi embrio lahirnya UU Peradilan Agama (1989) juga memprakarsai lahirnya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), dizinkannya Bank Islam dengan meresmikan pembukaan Bank Muamalat di halaman Istana Bogor juga pada 1989. Bahkan kehidupan pribadi keluarga Soeharto yang makin merapat ke Islam ditandai  pergi haji seluruh keluarga pada 1990, semua ini membuat kalangan Kristen semakin gundah dan tercermin oleh ungkapan ‘Ijo Loyo-Loyo’ Kompas yang sekaligus menjadi pertanda dimulainya perlawanan sengit kepada rejim Soeharto. Apalagi sikap Soeharto sejak Pemilu 1992 saat itu semakin jelas yakni semakin menjauhi golongan Kristen yang selalu dipelopori oleh CSIS (Centre for Stategic and International Studies), sebaliknya semakin merapat bersama kelompok Islam.
Kompas sejak 1992 itu bagai menabuh genderang perlawanan terhadap rezim Soeharto. Sikap perlawanan itu terus dipupuk dan bermuara pada jatuhnya Soeharto pada Mei 1998. Sikap konsisten Kompas yang sejati adalah selalu berlawanan dengan Islam.
Itulah yang kemudian terjadi pada 1997 lebih 100 tokoh Islam melancarkan gugatan kepada Kompas diprakarsai oleh KISDI (Komite Indonesia Untuk Solidaritas Dunia Islam). Sejumlah tokoh Islam penggugat Kompas itu di antaranya : M. Amien Rais, M. Syafii Maarif, Deliar Noer,Kuntowidjojo, Afan Ghafar, Kyai Misbach, Prof Daoed Ali Guru Besar UI, Ahmad Sumargono, KH Abdul Rasyid AS, KH Cholil Ridwan, dan lebih 100 tokoh lainnya. 
Gugatan itu dipicu oleh tajuk rencana Kompas 28 Agustus 1997 dan 2 September 1997, namun hakikatnya gugatan itu ditujukan kepada sikap dan penampilan Kompas yang selalu melecehkan aspirasi Islam dalam berbagai ekspresi yang sangat menghina. Gugatan kepada Kompas ini pada awalnya dimulai dari protes KISDI atas pemuatan dua tajuk rencana Kompas seperti disebut dimuka berjudul "Kekerasan Membuat Aljazair Runyam", "Korban Terus Berjatuhan dan Situasi Aljazair" semakin kusut ratusan orang dibantai. 
Dalam tajuk ini sangat tergambar kebencian Kompas seraya memanipulasi adanya kekejian pembantaian di Aljazair yang amat sadistis, diantaranya tertulis dalam tajuk itu, Kompas menuduh pembantaian sadis dilakukan FIS (Front Islamique Du Salute) kutipannya : “Berbagai kalangan geram dan marah terhadap tindakan kaum militant FIS yang dinilai tidak berperikemanusiaan, sadis, brutal dan tanpa ampun”. Kompas jelas memfitnah FIS juga Islam secara keseluruhan, karena dalam peristiwa pembantaian sadis di AlJazair itu oleh media besar Barat sendiri seperti Washington Post, The New York Time, Newsweek terang-terangan meragukan pelaku pembantaian sadis di Aljazair itu adalah Kelompok Islam FIS. Padahal Kompas sudah memblow-up kekejian itu sebagai dilakukan FIS dan menggambarkan kekejian itu adanya  pembantaian orang tua, anak-anak yang dipenggal kepalanya seraya kepala itu dipajang di atas pintu rumah. Bahkan digambarkan kekejaman FIS membantai para wanita hamil yang dirobek perutnya oleh senjata tajam.

Fitnah Kompas ini dilaporkan KISDI ke Menteri Penerangan R. Hartono, sehingga pemberitaan minor itu pun terhenti. KISDI pun segera membentuk TPI (Tim Pembela Islam) yang dipelopori Hartono Mardjono, SH dan Bachrun Martosukaro, SH yang segera melayangkan somasi terhadap Kompas. Peristiwa ini menjadi berita besar nasional dan berakhir dengan perdamaian antara TPI mewakili 100 tokoh Islam melawan Kompas. Ketua MUI KH. Hasan Basri pun menjadi saksi perdamaian itu dengan janji-janji pihak Kompas tidak akan mengulangi perbuatannya.
Ternyata janji-janji itu tidak pernah ditepati. Penampilan Kompas yang cenderung melecehkan Islam tetap selalu tampil. Pelecehan jika tidak langsung dilakukan Kompas juga dilakukan oleh media-media yang diterbitkannya. Seperti yang dilakukan harian berbahasa Inggris milik Kompas, The Jakarta Post memajang illustrasi belum lama ini tentang ISIS yang sangat menghina Islam secara keseluruhan. Sejumlah elemen Islam seperti FPI (Front Pembela Islam) melaporkan ke Polri namun pihak Polri tidak memproses dengan cepat dan fair. Karena itu Kompas semakin berani melecehkan Islam dalam berbagai ekspresi dan dimuat di media online-nya seperti Kompas.com, Tribunnews.com,dan berbagai media grup mereka. 
Sekadar mengungkap catatan, Kompas pernah melancarkan perasaan anti Islam melalui majalah Jakarta-Jakarta pasca Kerusuhan Mei 1998. Fitnah luar biasa itu melalui tulisan opini FX Rudi Gunawan. Tulisan itu mengungkap  bahwa dalam kerusuhan Mei 1998 telah terjadi pemerkosaan massal terhadap warga negara keturunan China oleh orang Islam. KISDI lagi yang melakukan protes ke Deppen, apalagi kemudian berita bohong Jakarta-Jakarta itu pun menjadi berita internasional. Bahkan FBI dan CIA di Amerika Serikat sempat mempercayai berita bohong itu dan menampung permintaan suaka ratusan keturunan Cina ke AS dengan alasan sebagai korban pemerkosaan umat Islam di Jakarta. Karena dalih mereka ditulis dalam sebuah pengakuan yang seragam (sama persis hanya foto copy) membuat pihak keamananan Amerika curiga dan melakukan investigasi ke Jakarta. Hasilnya menurut VOA (Voice of America) gelombang  pencari suaka keturunan China itu dikendalikan seorang makelar pencari kerja dari RRC ke AS.

Kompas memang sangat 'kreatif’ dalam melecehkan Islam, dan tidak habis-habis selalu minor dari aspirasi Islam. Belum lama ditandatangani perjanjian damai heboh Somasi TPI ke Kompas, masuk bulan Ramadhan 1998 (Kompas, 3 Januari 1998) kembali Kompas berulah dengan memuat berita foto sangat besar di halaman satu dengan judul "Sarapan Pagi". Foto yang sangat besar itu bagai melecehkan umat Islam saat itu tengah berpuasa. Foto itu terasa kontroversial dimuat secara mencolok dalam ukuran besar (tiga kolom di halaman muka) setinggi setengah halaman koran, dengan keterangan foto "Sarapan Pagi : Menjelang pelajaran dimulai murid SD Slopeng Sumanep, Madura ini menyempatkan diri untuk sarapan pagi. Dengan uang Rp100,- di kantin belakang sekolah, mereka dapat menikmati sepiring nasi uduk dengan lauk ala-kadarnya." Pemuatan foto itu mengusik tokoh Betawi juga Ketua Bamus Betawi Mayjen (Purn) Eddie M. Nalapraya. Menurut Eddie saat itu, foto itu jelas melecehkan umat Islam yang tengah berpuasa juga menghina orang Madura yang 100% beragama Islam. Foto itu menurut mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu, sengaja dimuat untuk “menyindir” bahkan melecehkan umat Islam yang saat itu tengah berpuasa.

Gaya Kompas yang sinis dan “menyerang” Islam itu tampaknya kini di era pemerintahan Joko Widodo yang didukungnya habis-habisan sejak awal itu, akan lebih nyaring dilontarkan. Mungkin mereka merasa kembali sebagai pendamping penguasa seperti di awal era Orde Baru bersama Soeharto.


Sumber           :           Suara Islam

Arti Berlindung

Agama Buddha lebih bertujuan untuk membuat kita memuliakan; Sang Buddha sebagai Buddha sejati (yang benar-benar telah tercerahkan oleh diri-Nya sendiri dan kemudian mengajarkan Dhamma kepada makhluk lain), untuk membuat kita memuliakan Dhamma sejati (yang dibabarkan oleh Sang Buddha), dan memuliakan Sangha sejati (Komunitas orang-orang yang berlatih). Tiga Perlindungan ini nyata dan dapat diandalkan.
Sebagian orang mungkin meragukan Ajaran Sang Buddha, sehubungan dengan Dhamma yang menyatakan; “Diri ini adalah pelindung bagi diri sendiri” dengan pernyataan tiga perlindungan terhadap; Buddha, Dhamma dan Sangha. Ada syair yang mengokohkan tiga perlindungan itu dan menyangkal perlindungan lain. Syair itu berbunyi:
“Tiada perlindungan lain bagiku; Sang Buddha-lah sesungguhnya pelindungku yang tertinggi,
Tiada perlindungan lain bagiku; Sang Dhamma-lah sesungguhnya pelindungku yang tertinggi,
Tiada perlindungan lain bagiku; Sang Sangha-lah sesungguhnya pelindungku yang tertinggi.”
Jika orang mendengar sepintas, tampaknya ketiga hal ini saling berlawanan, tetapi sebenarnya tidaklah demikian.
Pertama, marilah kita lihat secara jelas ketiga obyek itu. Walaupun berbeda dalam pengertian materi, namun memiliki esensi yang sama; karena ketiganya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sang Buddha mewujudkan Dhamma, dan Dhamma ini dilestarikan oleh Sangha, sedangkan Sangha adalah murid-murid Sang Buddha; jadi ketiganya saling berhubungan. Ibarat tiga tiang kayu yang saling menyangga. Jika orang berlindung pada salah satunya, otomatis dia bergantung pada ketiganya. Dalam pengertian lain, Sang Buddha adalah perlindungan tertinggi; demikian juga Dhamma dan Sangha, sesuai dengan sifat-sifat khususnya masing-masing. Penghafalan kitab suci hanya merupakan ungkapan sederhana; tiada perlindungan lain selain Sang Buddha, tiada perlindungan lain selain Dhamma, tiada perlindungan lain selain Sangha.
Di sini, kita sampai pada masalah: apakah ini berlawanan dengan ajaran untuk berlindung pada diri sendiri? Sebenarnya, ketiga perlindungan ini disebut “sarana”, sedangkan perlindungan pada diri sendiri disebut “natha”, namun tidak perlu kita menyelidiki asal kata dari bahasa Palinya. Ajaran-ajaran ini tidak berlawanan, justru sebenarnya sangat sesuai. Seandainya kita membandingkan kehidupan kita dengan suatu perjalanan; kita mengambil perlindungan pada Sang Buddha sebagai pemandu, pada Dhamma sebagai jalan, pada Sangha sebagai orang-orang yang terus berjalan untuk menunjukkan jalan, dan pada diri sendiri kita sendiri sebagai musafir. Di sini, “diri” berarti diri kita sendiri, yang merupakan sesuatu yang tidak dapat ditinggalkan. Sejak lahir kita sudah harus berlindung pada diri sendiri.
Marilah kita renungkan hal ini sejenak, seorang anak memang tidak dapat bergantung pada dirinya sendiri; ayah atau ibunya harus selalu membantu menopangnya. Tetapi dalam hal yang paling penting anak itu justru harus bergantung pada dirinya sendiri. Orang tua menyediakan makanan dan mereka hanya dapat meletakkan makanan itu di mulut si anak. Lalu anak itu sendirilah yang harus mengunyah dan menelannya; tubuhnya harus menerima dan mencernanya. Dalam mengunyah dan menelan makanan, si anak harus bergantung pada dirinya sendiri. Begitu juga dalam hal belajar; si anak mungkin bergantung pada orang tuanya untuk mencari sekolah dan membayar uang sekolah, tetapi dia sendirilah yang harus belajar. Dia tidak dapat bergantung pada ibunya, ayahnya, atau siapa pun juga, agar belajar dan mencari ilmu baginya, sementara dia duduk santai berpangku tangan. Belajar untuk memperoleh pengetahuan membutuhkan ketergantungan pada diri sendiri, pada sendiri, dan pada kekuatan intelegensinya sendiri. Inilah yang disebut berlindung pada diri sendiri. Tetapi bagaimana orang dapat berlindung pada diri sendiri agar tidak menjadi malas dan tidak gagal? Orang harus berlatih sesuai dengan ajaran dan petunjuk Sang Buddha, yang mengajarkan kepada kita untuk berjuang dengan gigih sampai berhasil. Inilah yang disebut berlindung pada Sang Buddha, Dhamma dan Sangha; yaitu, merenungkan ketiganya dan berlatih sesuai dengan itu semua. Ketiganya dapat menjadi perlindungan bagi diri sendiri; demikian juga orang dapat berlindung pada diri sendiri.
Barangkali akan timbul pertanyaan; pada saat ini, di manakah Sang Buddha bersemayam? Murid-murid yang mempelajari sejarah Buddhis akan menjawab: pada saat ini, yang ada hanyalah Dhamma dan Vinaya (Peraturan) yang dicetuskan oleh Sang Buddha ketika Beliau masih hidup. Dhamma dan Vinaya sebagai wakil Guru Agung pernyataan tersebut dibuat ketika Beliau akan meninggal dunia (parinibbana). Tetapi beberapa murid Dhamma lain mungkin berusaha membuat orang lain berpikir dengan menjawab: “Sang Buddha mencapai Dhamma yang Kekal(amatadhamma), maka Beliau tidak dapat mati”. Jadi sekarang inipun, Sang Buddha masih ada dan akan tetap ada selamanya. Di manakah Beliau bersemayam? Beliau ada di dalam Dhamma yang Kekal. Beberapa murid Dhamma lainnya mungkin akan mengacu pada bukti yang terdapat di kitab suci; di sana tidak disebutkan apakah Sang Buddha dan para Arahat meninggal dan lenyap, atau meninggal untuk dilahirkan lagi. Hal ini disebabkan karena yang mati adalah khandha(indriya) atau khandhatubuh (khandha-kaya). Sang Buddha dan para Arahat bukanlahkhandha. Bila dikatakan bahwa mereka meninggal dan lenyap, atau meninggal dan apa pun sebutannya, semua itu tidaklah benar. Murid-murid Dhamma masih mempertahankan bahwa bila Sang Buddha dikatakan ada dan kekal, ini bukannya tanpa dasar. Jika orang ingin melihat Buddha pada saat ini atau kapanpun, dia harus bertekad untuk mempraktekkan Ajaran Buddha. Dia harus melatih pikiran untuk konsentrasi, melatih pemahaman Dhamma, dan kemudian dia akan dapat melihat Sang Buddha sendiri. Sang Buddha telah memastikan bahwa: “Siapa pun yang melihat Dhamma, berarti melihat Buddha”. Kesaksian ini menyatakan bahwa Sang Buddha ada dan dapat benar-benar dilihat. Karena itu, memutuskan Sang Buddha sebagai pelindung, seperti yang terungkap dalam syair: “Pada Sang Buddha-lah saya berlindung” bukan berarti berlindung dalam kekosongan karena Sang Buddha sudah tidak ada. Sang Buddha benar-benar merupakan perlindungan sejati.
Metode latihan yang digunakan untuk berlindung pada Sang Buddha adalah dengan merenungkan sifat-sifat luhur yang dimiliki Sang Buddha. Atau dapat merenungkan dengan cara: Sang Buddha benar-benar telah tercerahkan, benar-benar suci, dan memiliki welas asih sejati. Beliau akan muncul dalam sifat-sifat luhur tersebut. Maka kesepian dan rasa takut akan lenyap dari pikiran seseorang. Atau jika orang merasa cemas dan tertekan, suasana hati yang demikian akan segera lenyap. frustasi mental akan lenyap; lalu akan tampak jelas cara terbaik untuk memecahkan masalah. Inilah kekuatan Buddha sejati. Yang penting adalah mempertahankan Sang Buddha dalam pikiran seseorang sebagai perlindungan sejati. Maka Sang Buddha kemudian akan muncul sebagai perlindungan bagi seseorang. Pikiran yang memiliki perlindungan itu akan bersifat hangat dan tidak kesepian; kuat dan tidak lemah; berani dan tidak takut; murni, tidak menderita dan tidak keruh. Pikiran itu cenderung memunculkan pandangan benar. Bilamana orang telah melatih konsentrasi dan pemahaman Dhamma sehingga dia dapat melihat Dhamma, maka dia akan melihat Sang Buddha dengan jelas dan jernih. Sang Buddha dan Ajaran-Nya, nyata dan dapat menjadi perlindungan yang dapat diandalkan bagi siapa pun di dunia ini.

[Dikutip dari Pengabdian Tiada Henti, 20 th Abdi Dhamma Sangha Theravada Indonesia. Naskah asli: Meaning of Refuge, Diambil dari Buku: FAITH IN BUDDHISM, Karya: H.H. Somdet Phra Ñanasamvara, Penerbit: Wat Bovoranives Vihara Bangkok, Thailand ]

Korban konflik Ambon rayakan Hari Perdamaian Dunia


Ratusan warga Kota Ambon yang umumnya merupakan korban konflik sektarian beberapa tahun silam berkumpul di kawasan Pattimura Park di Jalan Pattimura untuk memperingati Hari Perdamaian Internasional yang jatuh pada  Minggu (21/9/2014) sore.
Para warga yang pernah merasakan penderitaan saat konflik terjadi menceritakan berbagai pengalamannya hingga mereka harus berpikir bagaimana cara merajut perdamaian dan mengakhiri konflik antarsesama.
“Saat ini kami kembali hidup berdampingan lagi dalam kedamaian, ini sebuah hal yang sangat indah sekali,” kata Ida, salah seorang warga Waiheru yang ikut hadir dalam kegiatan itu.
Dia mengisahkan, saat konflik pecah beberapa tahun silam, kehidupan di Kota Ambon sangat memprihatinkan karena yang dirasakan hanyalah penderitaan yang berkepenjangan. Namun, saat ini situasi tersebut telah berubah dan warga telah kembali hidup rukun dalam suasana kebersamaan dan persaudaraan seperti sedia kala.
“Konflik hanya membawa penderitaan, tidak ada warga yang diuntungkan dari konflik, kita bersyukur karena ada kesadaran bersama sehingga kita bisa kembali seperti ini,” ujarnya.
Koordinator kegiatan, Lussy Peilouw kepada Kompas.com, di sela-sela acara, mengatakan perhelatan ini selain untuk memperingati hari perdamaian internasional juga untuk membangun perdamaian di Maluku khususnya di Ambon yang lebih kuat.
Menurut dia, kegiatan tersebut dialakukan sebagai refleksi untuk menimbulkan kesadaran kolektif agar perdamaian yang telah terwujud dapat terus dirawat dan dipertahankan.
“Kami ingin ada interaksi yang cair di antara sesama masyarakat. Kami ingin membangun integritas sosial dan kohesi sosial sehingga terwujud kesadaran akan pentingnya perdamaian,” ujarnya.
Dia pun berharap agar kegiatan tersebut dapat menjadi momentum dan spirit bersama untuk tetap membangun perdamaian di Ambon.
“Harapannya apa yang dirasakan, apa yang disampaikan di sini oleh warga juga dapat didengar oleh pemerintah supaya kebutuhan mendasar setiap warga untuk merasakan kedamaian dapat terwujud,” kata dia.
Dalam kegiatan itu, warga dan anak-anak juga terlihat membubukan tandatangan di atas kain putih sebagai komitmen untuk terus menjaga kedamaian dan kebersamaan di Ambon. Sejumlah pesan-pesan perdamaian yang ditulis di lembaran kertas warna warni juga dibagikan kepada seluruh warga yang hadir.
Selain dihadiri warga dan anak-anak dari dua komunitas agama berbeda, hadir dalam kegiatan itu juga komunitas seni, kelompok mahasiswa cinta damai, dan sejumlah komunitas perdamaian dan perempuan Ambon.


Sumber           :           Kompas.com

ISIS Ancam akan Serang dan Taklukan Vatikan


LONDON — Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) kini benar-benar melancarkan ancaman untuk menyerang Vatikan setelah memuat foto bendera hitam berkibar di puncak obelisk yang berdiri di Lapangan Santo Petrus, Vatikan.
Foto itu muncul di majalah terbitan ISIS Dabiq yang dirilis pada Senin (13/10/2014). Di halaman depan edisi keempat majalah itu, terpampang judul yang berisi ajakan untuk memerangi Gereja Katolik.
Kepala berita itu berjudul "The Failed Crusade" yang di dalamnya berisi sejumlah artikel yang berisi ancaman ISIS untuk menyerang dan menaklukkan Roma.
Selain ancaman untuk menyerang Roma, sejumlah artikel dalam majalah yang namanya diambil dari nama sebuah kota di Suriah utara, yang menjadi tempat Turki Ottoman mengalahkan Dinasti Mamluk pada 1516 dan mendirikan kekalifahan Islam terakhir itu, juga menyerukan umat Muslim untuk menyerang dan membunuh semua warga negara yang kini memerangi ISIS.
Bulan lalu, sejumlah pejabat pertahanan Italia mengatakan telah memperketat pengamanan di Vatikan menyusul ancaman yang dilontarkan ISIS. Pengamanan itu termasuk menciptakan zona larangan terbang di atas Vatikan.


Sumber           :           Kompas.com

Konghucu - Islam Pererat Persahabatan


DIALOG KEAGAMAAN - Wakil Presiden Boediono didampingi Ketua Penyelenggara Slamet E­ endi Yusuf (kiri) dan Ketua Harian MUI Pusat KH Ma’ruf Amin (ketiga kiri) serta Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Ko
Umat Islam dan Konghucu harus meningkatkan kontribusi dan sumbangsih bagi peradaban dunia.

JAKARTA - Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah Indonesia, umat Konghucu dan Islam menggelar konferensi berisi dialog dan diskusi antartokoh mereka, dengan tujuan mempererat persahabatan dan kerja sama antarumat kedua agama dalam membangun peradaban Indonesia dan dunia.

Acara yang diberi nama The Islam and Confucian Summit 2013 (ICS) ini digelar di Hotel Best Western Hariston, Jakarta Utara, dimulai Jumat (23/8), namun baru dibuka resmi Sabtu (24/8) pagi ini oleh Wakil Presiden Boediono dan berakhir Minggu (25/8) besok.

Acara bertajuk “Islam and Confucian Contribution to Build a New Civilization for the Peace World” ini merupakan hasil kerja sama Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Dalam pidatonya, Boediono mengatakan forum dialog antarumat beragama seperti ICS dapat membantu mencegah terjadinya konflik antarkelompok yang akhir-akhir ini makin kerap terjadi.

“Dengan forum dialog seperti inilah rasa saling pengertian antarumat beragama dapat ditumbuhkan. Dialog antarumat beragama selalu menjadi angin segar di tengah turunnya toleransi, konflik antarkelompok, yang akhir-akhir ini kerap kita lihat, di manapun, dan Indonesia memang juga tak luput dari peristiwa itu,” kata Boediono.

Selain Boediono, tokoh lainnya yang hadir adalah Ketua Komisi Fatwa MUI Ma’ruf Amin, Ketua Bidang Kerukunan Umat Beragama MUI Slamet Effendy Yusuf, Ketua Umum Matakin Wawan Wiratma, Sekretaris Dewan Rohaniwan Matakin Budi Santoso Tanuwibowo, serta sesepuh umat Konghucu Indonesia yang juga pakar filsafat dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Oesman Arief.

Diskusi dalam ICS secara keseluruhan akan terbagi dalam empat subtema, antara lain “Napak Tilas Jalur Sutra dan Relevansinya Terhadap Hubungan antara Kebudayaan Konghucu dan Islam”, serta “Titik Temu Agama Konghucu dan Islam dalam Perkembangan Keharmonisan Umat Beragama di Indonesia”. Tiap sesi dibagi dalam sejumlah dialog yang menghadirkan tokoh-tokoh terkemuka kedua agama.

Tokoh-tokoh yang dijadwalkan menjadi pembicara, antara lain Ketua Umum Muhammadiyah sekaligus Wakil Ketua MUI Din Syamsudin, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj, mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Direktur Harvard-Yenching Institute Tu Weiming, serta pakar Konghucu dari Institute of Chinese Studies-Universitas Tengku Abdu Rahman Malaysia, Tee Bon Cuan.

Mereka akan berbagi pandangan dan bertukar gagasan, mengenai bagaimana umat Konghucu dan Islam dapat menyumbangkan kontribusi dari nilai-nilai sejarah keharmonisan hubungan kedua agama, untuk membangun peradaban dunia yang lebih baik.

Harmonis

Ketua Bidang Kerukunan Umat Beragama MUI yang juga pencetus diselenggarakannya ICS, Slamet Effendy Yusuf, menerangkan pengalaman keharmonisan itulah yang menjadi inspirasi dasar dari diadakannya acara ini.

“Gagasan dasarnya adalah karena saya melihat konflik-konflik yang terjadi di dunia sekarang telah membuat sebagian orang percaya, bahwa peradaban manusia masa depan akan mengarah pada suatu benturan besar antarperadaban, clash of civilizations, padahal itu tidak benar. Islam dan Konghucu telah terbukti dalam sejarah dapat hidup rukun harmonis berdampingan. Kami di sini akan mengeksplor nilai-nilai dari pengalaman sejarah ini untuk membangun suatu antitesis dari paham clash of civilizations, bahwa dengan dialog dan kerja sama kita justru bisa membangun peradaban dunia yang mengarah ke dialogue of civilizations, ke perdamaian,” kata Yusuf kepada SH.

ICS akan ditutup besok dengan pengumuman hasil dialog kedua pihak. Pengumuman ini akan diberi nama “Pesan Jakarta”.

Yusuf mengatakan Pesan Jakarta intinya akan memuat hasil eksplorasi kedua pihak terhadap pengalaman sejarah keharmonisan hubungan mereka, yang nilai-nilainya kemudian diharap dapat memberi kontribusi relevan bagi berbagai situasi kekinian yang dihadapi Indonesia dan dunia, demi membangun tata dunia lebih damai. “Kerja sama dan persahabatan antarmanusia, no conflict no war,” tandas Yusuf.

Hal senada diungkapkan Koordinator Presidium Matakin, Chandra Setiawan. “Tujuan digelarnya ICS adalah mencari bagaimana umat Islam dan Konghucu dapat meningkatkan kontribusi dan sumbangsih bagi peradaban dunia, baik nasional maupun internasional,” kata Setiawan pada SH.

“Dalam sejarahnya, umat Islam dan Konghucu telah lama dikenal saling mengenal dan bersahabat. Kita ingat bagaimana misalnya dulu Laksamana Cheng Ho (pelaut terkemuka China abad 15 yang pernah berlayar ke Nusantara-red) yang beragama Islam tapi anak buahnya semua beragama Konghucu. Bahkan, seorang keturunan Cheng Ho ada yang beragama Islam dan dialah yang membangun menara salah satu masjid di Cirebon,” terang Chandra, sembari menambahkan bahwa dalam Konghucu ada prinsip, “Kawan-kawan datang dari jauh, bukankah itu menyenangkan?”

“Itulah sebabnya masyarakat Konghucu di China dulu tidak pernah keberatan dengan kedatangan dan kehadiran Islam. Hubungan keduanya menjadi sangat harmonis,” kata Chandra.

Ketua Dewan Rohaniwan Matakin, Haksu Tjhie Tjay Ing menambahkan, tujuan penting lain digelarnya ICS adalah keharmonisan antarumat beragama, khususnya antara Konghucu dan Islam.

“Yang penting adalah He Er Bu Tong atau harmonis meskipun tidak sama, rukun walau berbeda pandangan. Jangan sampai hubungan antarumat malah terbalik menjadi Tong Er Pu He, meskipun sama tapi tidak bisa rukun,” kata Tjhie.

Wakil Ketua Dewan Rohaniwan Matakin , Djaengrana Ongawijaya, mengharapkan ICS dapat membantu membangun hubungan yang makin harmonis antarseluruh umat beragama di Indonesia, agar nilai-nilai Pancasila juga semakin dilestarikan.

“Kami berharap hubungan lintas agama di Indonesia jadi lebih kondusif, jangan sampai dituduh negara-negara Barat hubungan antarumat di sini tidak harmonis. Bayangkan, Indonesia punya 17.000 pulau, 700 bahasa. Kalau hubungan antarumat makin harmonis tentu NKRI juga makin kuat. Jadi, kami berharap acara ini dapat turut membantu memperkokoh nilai-nilai Pancasila,” kata Djaengrana.


Sumber : Sinar Harapan http://shnews.co/detile-23848-konghucuislam-pererat-persahabatan.html