Oleh : Ki Temes Saya teringat,
ketika saya masih kecil, sekitar akhir tahun 50an, di kampung saya ada seorang
laki-laki yang bangga sekali karena pernah dipenjara di Nusa Kambangan.
Sebabnya karena ia mencuri seekor babi. Saya tidak tahu mengapa hanya karena
mencuri seekor babi, seorang dipenjara di Nusa Kambangan? Apakah di Bali pada
waktu itu tidak cukup penjaranya? Sekarang kita tahu, Nusa Kambangan adalah
penjara tempat mengurung penjahat besar, seperti para gembong teroris, sekelas
Iman Samudra, Amrozy, Ali Gufron dkk, pembunuh hakim agung, gembong narkotik
dan sekelasnya. Tetapi pada waktu itu juga Nusa Kambangan telah memiliki nama
besar dan ini dipahami dan dimanfaatkan oleh orang kampung saya itu.
Setiap waktu dia ingin menunjukkan kewibawaannya terhadap orang lain, ia akan
mengatakan : “Ne jeleme suba taen di Nusa Kambangan” (Ini manusia sudah pernah
di Nusa Kambangan). Dan orang yang mendengar itu akan jerih dan ciut nyalinya.
Tapi satu kali ia kena batunya. Ada orang yang berani bertanya. Ketika mantan
narapidana ini ingin menunjukkan kuasa dengan kalimat ampuh “Ne jeleme……” orang
yang berani itu segera memotong, “Memangnya kenapa sampai bapak di Nusa
Kambangan?” Mantan narapidana ini diam. Mungkin dia malu dipenjarakan di Nusa
Kambangan hanya karena mencuri seekor babi. Andaikata ia dipenjara di tempat
jauh dan seram itu karena membunuh seorang jagoan yang mengacau desa, atau
karena korupsi miliaran rupiah seperti pegawai pajak itu, barangkali dia tidak
akan malu.
Seorang penceramah senior di Jakarta, sering kali mengungkapkan kebanggaannya
akan kejujuran orang Bali. Coba lihat penjara-penjara di Bali, jarang
narapidananya orang Bali. Kalau ada, biasanya karena pembunuhan, atau rebutan
warisan, tidak ada karena pencurian atau perampokan, katanya.
Seorang kawan sekerja bertanya kepada saya tentang kejujuran orang Bali.
Betulkah rumah-rumah di Bali tidak dikunci pintunya? Apa yang menyebabkan orang
Bali jujur? Apakah itu masih ada sekarang ini? Saya jawab, dulu kalau ada orang
mencuri dan tertangkap, dia akan diarak keliling desa dengan membawa barang
hasil curiannya, diiringi gamelan bebonangan. Ini akan membuat si pencuri
sangat malu. Dan ini akan membuat efek pencegahan bagi yang lain.
Memang benar rumah-rumah di kampung saya sampai sekarang tidak pernah dikunci
pintunya, baik pintu gerbang untuk masuk pekarangan, maupun pintu kamarnya.
Sepanjang ingatan saya, kami di rumah memang tidak pernah kecurian. Tetapi
bukan tidak pernah kecurian sama sekali. Bapak saya pernah kehilangan seekor
kucit (anak babi) di ladang. Pernah kehilangan buah vanili yang siap di panen,
pernah kehilangan banyak ikan di kolam di sawah. Saya dan paman sendiri pernah
mencuri bubu. Tapi ini ada unsur pembenarnya: kami marah dan tersing-
gung karena yang memasang bubu di sawah kami adalah orang dari lain desa.
Sekalipun demikian tidak semua bubunya kami ambil, kami masih tinggalkan
sebagian, karena si pemilik bubu berteriak dari seberang sungai, “jangan ambil
semua pak. Itu untuk biaya sekolahkan saya.” Tentu yang terakhir ini tidak saya
ceritakan ke teman kantor saya ini.
Sebaliknya seorang teman lain berkomentar agak sinis, ketika seorang kepala
penjara di Denpasar malah masuk penjaranya sendiri karena sengaja melepaskan
seorang nara pidana narkotik dari Australia. “Katanya orang-orang Bali
orang-orang jujur,” kata teman ini. “Dia memang orang Bali, tetapi sudah bukan
Hindu lagi,” kata saya waktu itu. Jawaban saya mungkin arogan, seolaholah bila
orang Bali masih beragama Hindu, dia pasti tidak akan melakukan kejahatan. Atau
paling sedikit orang Bali yang masih beragama Hindu lebih jujur dari orang yang
beragama lain. Tapi bagaimana metode perbandingannya?
Seorang teman kantor yang lain lagi meminta saya menemaninya ke Bali, karena
ada urusan ijin pembangunan sarana transmisi telekomunikasi. Saya mau saja,
karena sekalian dapat pulang kampung. Ketika kami berangkat ke kantor kepala
daerah, kawan ini membawa uang puluhan juta rupiah dalam tas plastic yang
ditentengnya. Katanya uang itu bantuan operasional pemilu. Dia meminta saya
agar menunggu di tempat parkir, tidak boleh ikut masuk, karena mungkin
penyerahan “bantuan” ini akan gagal, barangkali pejabatnya malu kalau ada orang
Bali yang ikut melihat transaksi ini. Dia masih berpikir positif, antara orang
Bali tidak mungkin sogok menyogok. Itu perbuatan yang memalukan karena hukum
karma yang mereka percayai. Begitu barangkali pikirnya.
Sekarang desas desus ramai sekali, bahwa seorang kepala daerah di Bali kerjanya
hanya mengutip sogokan dari orang-orang yang ingin jadi pegawai, yang tentunya
orang-orang Bali juga. Katanya untuk menjadi pegawai di pemda seorang sarjana
harus bayar upeti sekitar 150 – 200 juta rupiah.
Ada kepala daerah yang memiliki pabrik miras, yang membuat teler orang-orang
sekampungnya, dan dia dilaporkan oleh mantan ketua DPRD ke KPK, karena mark up
pembelaian tanah untuk rumah sakit, tapi sampai sekarang tidak jelas ujungnya.
Kepala daerah yang lain menjadikan anak dan istrinya sebagai calo proyek. Entah
benar entah tidak. Yang sudah menjadi fakta hukum, karena sudah diadili dan
dihukum adalah adik seorang bupati yang terlibat pembunuhan terhadap seorang
wartawan, karena wartawan ini mengungkapkan kkn yang dilakukannya terkait
proyek-proyek di kantor kakaknya. Ada pula seorang mantan bupati yang diadili
karena korupsi. Yang lebih memprihatinkan lagi pencuri pratima (lambang Tuhan
yang disucikan) di beberapa pura ternyata orang Bali sendiri, yang masih beragama
Hindu, hanya penadahnya orang Italia.
Tetapi ada juga hal yang menggembirakan, yaitu kantor Wali Kota Denpasar
merupakan kantor terbersih dari korupsi di antara kantor bupati dan kota di
Indonesia, yagn disurvei oleh Transparansi Internasional Indonesia. Kantor ini
memperoleh nilai tertinggi 6 dari skala 10. Jadi tidak bersihnya cuma atau
tinggal 4
Belakangan ini ada dua orang Bali yang sering namanya masuk media massa, cetak
dan elektronik, karena terkait korupsi. Yang satu seorang penjabat eselon dua
di Kemennakertran, yang satu lagi seorang anggota DPR. Pejabat eselon dua ini,
rupanya ketiban sial, terpaksa harus menerima uang titipan THR lebaran untuk
menterinya, karena orang yang seharusnya menerima uang itu tidak datang pada
saat pengusaha menyerahkannya. Dan ia tertangkap tangan oleh KPK. Yang menarik,
sebuah surat kabar nasional ketika meliput rumah orang ini, menyebutkan, di
rumahnya di Depok terdapat pura (maksudnya merajan). Boleh kita katakan,
pejabat ini terlibat tindakan korupsi karena perintah atasannya. Ia sebenarnya
orang Bali yang jujur, tetapi terpaksa melakukan tindakan tercela karena
tekanan dari atasannya. Atau apologi yang lain.
Sedangkan yang anggota DPR kita ini diisukan terkait dengan kasus korupsi
Muhammad Nazaruddin, yang menggegerkan Indonesia selama beberapa tahun
belakangan ini. Sebelum menjadi anggota DPRRI, ia adalah seorang yang aktif
dalam kegiatan umat Hindu. Setelah jadi anggota DPR ia sangat murah hati
menyumbang untuk pura, untuk kegiatan PHDI, seperti dharma santi, misalnya.
Orang-orang Bali yang mengenal sepak terjangnya, berkata, “kasihan dia.”
Orang-orang Bali yang tidak mengenalnya, berkata, “Malu-maluin Bali saja.”
Tetapi ada juga yang menanggapinya dengan guyonan hitam, “jangan-jangan panitia
dharma santi akan diseret jadi saksi”.
Tulisannya ini dibuat dengan menghormati azas praduga tak bersalah. Kita
hormati proses hukum, tetapi tetap memberi simpati kepada kawan yang tertimpa
kesulitan, apapun sebabnya.
“Bukti terbesar dari ketidak-jujuran orang Bali adalah kecurangan dan
pelanggaran moral yang dilakukan oleh oknum-oknum PHDI Bali, termasuk pandita,
dalam Maha Sabha X yang lalu.”
Mungkin akan ada yang berkomentar tentang tulisan ini, seperti “mekecuh mot
menek” (meludah ke atas – akibatnya akan menimpa muka sendiri). Tulisan ini
hanya sekedar ajakan untuk mulat sarira, apakah kejujuran orang Bali suatu
realitas atau hanya sekedar mitos? Apapun jawaban atas pertanyaan ini kita
simpan saja dalam hati masing-masing.
Ini juga sebuah peringatan bagi orang-orang non-Bali, jangan berlebihan
menganggap dan mengharap soal kejujuran orang Bali. Sekalipun Bali disebut
Pulau Dewata, penghuninya secara sekala, yang kelihatan, bukanlah para dewata,
tetapi manusia yang dibuat dari jiwa dan daging, purusa dan prakerti. Mereka
adalah manawa yang ada sedikit di atas danawa dan sedikit pula di bawah dewata.
Danawa menariknya ke bawah Dewata menariknya ke atas. Seperti para raksasa dan
dewata yang berjuang satu sama lain merebut tirta amerta dalam mitologi
pemutaran lautan susu. Siapakah yang akan menang? Yang menang adalah yang
dipelihara dan diberi perhatian lebih banyak.
Sumber : Media Hindu