Kamma(bahasa Pali) atau
Karma (bahasa Sansekerta) artinya perbuatan. Kamma atau Karma adalah suatu
perbuatan yang dapat membuahkan hasil, dimana perbuatan baik akan menghasilkan
kebahagiaan dan sebaliknya perbuatan jahat juga akan menghasilkan penderitaan
atau kesedihan bagi pembuatnya.
Semua perbuatan yang
dilakukan atau disertai dengan kehendak berbuat (cetena) merupakan Kamma.
Kehendak dapat berarti keinginan, kemauan, kesengajaan atau adannya rencana
berbuat.
Sang uddha
bersabda: “O, Bhikkhu! Kehendak berbuat (cetena) itulah yang kami
namakan Kamma.” (Anguttara Nikaya III : 415)
Perbuatan yang tidak
mengandung unsur kehendak dengan sendirinya tidak tergolong Kamma yang dapat
menimbulkan akibat atau hasil perbuatan:
1.Perbuatan yang netral murni, misalnya duduk, berdiri,
berjalan, tidur, melihat dan lain-lain menurut keadaan yang wajar.
2.Perbuatan-perbuatan yang kelihatan baik atau jahat, namun
tidak disertai kehendak. Misalnya:
1.Waktu berjalan, ada semut yang terinjak mati
2. Tanpa disadari, uangnya jatuh dan dipungut oleh seorang cacat
yang amat memerlukan uang
Semua perbuatan akan
menimbulkan akibat dan semua akibat akan menimbulkan hasil perbuatan. Akibat
perbuatan disebut kamma-vipaka, dan hasil perbuatan disebut kamma-phala.
Dari segi perbuatan atau
salurannya, kamma dibedakan atas: Mano-kamma = perbuatan pikiran Vaci-kamma =
perbuatan kata-kata Kaya-kamma = perbuatan badan jasmani sedangkan menurut
sifatnya, kamma dapat dibagi menjadi dua bagian:
1. Kusala-kamma
= perbuatan baik
2. Akusala-kamma
= perbuatan jahat
Kusala-kamma berakar dari
kusala-mula, 3 akar kebaikan: Alobha : tidak tamak
Adosa : tidak membenci Amoha : tidak bodoh Akusala-kamma berasal dari akusala-mula, 3 akar kejahatan:
Adosa : tidak membenci Amoha : tidak bodoh Akusala-kamma berasal dari akusala-mula, 3 akar kejahatan:
Lobha : ketamakan
Dosa : kebencian
Moha : kebodohan
Jadi Hukum Karma adalah
hukum perbuatan yang akan menimbulkan akibat dan hasil perbuatan (kamma-vipaka
dan kamma-phala), Hukum kamma bersifat mengikuti setiap Kamma, mutlak-pasti dan
harmonis-adil.
Klasifikasi
Kamma:
1 Kamma
menurut fungsinya
2 Kamma menurut
kekuatannya
3 Kamma menurut
waktunya.
PEMBAGIAN
KARMA MENURUT FUNGISNYA:
1. Janaka-kamma: Kamma
yang berfungsi menyebabkan timbulnya suatu syarat untuk kelahiran
makhluk-makhluk.Tugas dari Janaka-kamma adalah melahirkan Nama-Rupa:
Janaka-kamma melaksanakan Punarbahava, yaitu kelahiran kembali dari makhluk-makhluk di 31 alam kehidupan (lapisan kesadaran) sebelum mereka mencapai pembebasan Arahat.
Janaka-kamma melaksanakan Punarbahava, yaitu kelahiran kembali dari makhluk-makhluk di 31 alam kehidupan (lapisan kesadaran) sebelum mereka mencapai pembebasan Arahat.
2. Upatthambaka-kamma:
Kamma yang mendorong terpeliharannya suatu akibat dari suatu sebab yang telah
timbul. Mendorong kusala atau akusala-kamma yang telah terjadi agar tetap
berlaku.
3. Upapilaka-kamma:
Kamma yang menekan kamma yang berlawanan agar mencapai kesetimbangan dan tidak
membuahkan hasil. Kamma ini menyelaraskan hubungan antara kusala-kamma dengan
akusala-kamma.
4. Upaghataka-kamma:
Kamma yang meniadakan atau menghancurkan suatu akibat yang telah timbul, dan
menyuburkan kamma yang baru. Maksudnya kamma yang baru itu adalah garuka-kamma,
sehingga akibatnya mengatasi semua kamma yang lain.
PEMBAGIAN
KAMMA MENURUT KEKUATANNYA:
Garuka Kamma Adalah kamma
yang berat dan bermutu. Akibat dari kamma ini dapat timbul dalam satu kehidupan,
maupun kehidupan berikutnya. Garuka kamma terdiri dari:
a. Akusala-garuka-kamma
b. Kusala-garuka-kamma
a. Akusala-garuka-kamma
b. Kusala-garuka-kamma
Akusala-garuka-kamma
Kamma yang berat terdiri dari 2 kelompok, yaitu:
Kamma yang berat terdiri dari 2 kelompok, yaitu:
1. Niyatamicchaditthi,
yaitu pandangan yang salah. Maksudnya memandang yang salah adalah benar dan
yang benar diartikan salah. Terdapat 10 pandangan hidup yang salah:
1. Tidak murah hati. Tidak
pemaaf atau tidak suka menolong kesukaran orang/makhluk lain.
2. Tidak mengerti faedah
berdana. Mengangap bahwa berdana adalah suatu kebodohan yang tidak ada
hasilnya.
3. Tidak memberikan hadiah
pada tamu. Tamu adalah seorang atau sekelompok orang yang kedatangannya
membahagiakan kita atau yang kedatangannya kita harapkan. Memberikan hadiah
pada tamu yang dewasa ini di kota terutama berarti memberikan minuman.
4. Perbuatan baik atau
perbuatan jahat dianggap tidak ada hasil atau akibatnya. Seorang yang yakin
perbuatan baik akan membawa hasil tentu berusaha menambah kebaikan pada setiap
kesempatan di manapun ia berada, dan sebaliknya berusaha menghndari perbuatan
yang salah setiap kali akan dilakukan.
5. Tidak percaya pada dunia
ini, tidak percaya akan kebenaran Dhamma, hukum-hukum kesunyataan; yaitu kelompok
manusia yang penuih dengan kekecewaan, kebencian, ketamakan, dan kebodohan.
6. Tidak percaya pada dunia
yang akan datang; tidak percaya akan tumimbal lahir, kehidupan yang akan
datang.
7. Tidak mengerti fungsi
seorang ibu, dan
8. Tidak mengerti fungsi
ayah, menganggap tidak membawa akibat apapun yang dilakukan pada mereka.
9. Tidak mempercayai adanya
makhluk yang mati atau yang dilahirkan kembali.
10. Tidak melakukan disiplin menyendiri (khusus untuk
para Buddha/Arahat)
2. Pancanantariya-kamma,
yaitu 5 perbuatan durhaka.
1. Membunuh ayah
2. Membunuh ibu
3. Membunuh seorang Arahat
4. Melukai seorang Buddha
5. Memecah belah Sangha
Mereka yang melakukan salah satu dari 5 perbuatan durhaka di
atas, setelah meninggal akan lahir di alam Apaya (duka/rendah), yaitu alam
neraka, binatang, setan dan raksasa.
Kusala-garuka-kamma
Adalah perbuatan “bermutu”, yaitu dengan bermeditasi , hingga
mencapai tingkat kesadaran jhana. Ia akan dilahirkan di alam sorga atau lapisan
kesadaran yang tinggi, yang berbentuk atau tanpa bentuk (16 rupa-bhumi dan 4
arupa-bhumi)
2. Asanna-kamma
Kamma yang dilakukan sebelum saat mati seseorang, baik lahir maupun batin, terutama dengan pikiran. Misalnya memikirkan perbuatan baik atau jahat yang telah dilakukan di masa lalu. Jadi mempunyai pikiran yang baik di kala akan meninggal adalah merupakan hal yang penting, yang akan menentukan bentuk kehidupan berikutnya menjadi lebih baik. Asanna-kamma berlaku apabila tidak melakukan garuka-kamma.
Kamma yang dilakukan sebelum saat mati seseorang, baik lahir maupun batin, terutama dengan pikiran. Misalnya memikirkan perbuatan baik atau jahat yang telah dilakukan di masa lalu. Jadi mempunyai pikiran yang baik di kala akan meninggal adalah merupakan hal yang penting, yang akan menentukan bentuk kehidupan berikutnya menjadi lebih baik. Asanna-kamma berlaku apabila tidak melakukan garuka-kamma.
3. Acinna-kamma atau Bahula-kamma
Apabila seorang dalam
hidupnya tidak melakukan garuka-kamma dan di saat akan meninggal tidak pula
melakukan Asanna-kamma, maka yang menentukan corak kelahiran berikutnya adalah
acinna-kamma. Acinna-kamma atau Bahula-kamma adalah kamma kebiasaan, baik
dengan kata-kata, perbuatan maupun pikiran. Walaupun seorang hanya sekali
berbuat baik, namun karena selalu diingat, menimbulkan kebahagiaan hingga
menjelang kematiannya, hal ini akan menyebabkan kelahiran berikutnya menjadi
baik. Demikian juga seorang yang hanya seklain bernuat jahat, karena selalu
diingat menimbulkan kegelisahan hingga akhir hidupnya, sehingga akan lahir di
alam yang tidak baik. Oleh karena itu apabila kita pernah berbuat jahat, maka
perbuatan jahat itu harus dilupakan; demikian pula sebaliknya kalau kita pernah
berbuat baik, perbuatan itu perlu selalu diingat.
4. Katatta-kamma
Bila seorang tidak berbuat Garuka-kamma, Asanna-kamma atau Acinna-kamma, maka yang menentukan bentuk kehidupan berikutnya adalah katatta-kamma, yaitu kamma yang ringan-ringan, yang pernah diperbuat dalam hidupnya.
sumber : Artikel Bhuddist
Bila seorang tidak berbuat Garuka-kamma, Asanna-kamma atau Acinna-kamma, maka yang menentukan bentuk kehidupan berikutnya adalah katatta-kamma, yaitu kamma yang ringan-ringan, yang pernah diperbuat dalam hidupnya.
sumber : Artikel Bhuddist
Tidak ada komentar:
Posting Komentar