Rabu, 15 Oktober 2014

Konghucu - Islam Pererat Persahabatan


DIALOG KEAGAMAAN - Wakil Presiden Boediono didampingi Ketua Penyelenggara Slamet E­ endi Yusuf (kiri) dan Ketua Harian MUI Pusat KH Ma’ruf Amin (ketiga kiri) serta Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Ko
Umat Islam dan Konghucu harus meningkatkan kontribusi dan sumbangsih bagi peradaban dunia.

JAKARTA - Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah Indonesia, umat Konghucu dan Islam menggelar konferensi berisi dialog dan diskusi antartokoh mereka, dengan tujuan mempererat persahabatan dan kerja sama antarumat kedua agama dalam membangun peradaban Indonesia dan dunia.

Acara yang diberi nama The Islam and Confucian Summit 2013 (ICS) ini digelar di Hotel Best Western Hariston, Jakarta Utara, dimulai Jumat (23/8), namun baru dibuka resmi Sabtu (24/8) pagi ini oleh Wakil Presiden Boediono dan berakhir Minggu (25/8) besok.

Acara bertajuk “Islam and Confucian Contribution to Build a New Civilization for the Peace World” ini merupakan hasil kerja sama Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Dalam pidatonya, Boediono mengatakan forum dialog antarumat beragama seperti ICS dapat membantu mencegah terjadinya konflik antarkelompok yang akhir-akhir ini makin kerap terjadi.

“Dengan forum dialog seperti inilah rasa saling pengertian antarumat beragama dapat ditumbuhkan. Dialog antarumat beragama selalu menjadi angin segar di tengah turunnya toleransi, konflik antarkelompok, yang akhir-akhir ini kerap kita lihat, di manapun, dan Indonesia memang juga tak luput dari peristiwa itu,” kata Boediono.

Selain Boediono, tokoh lainnya yang hadir adalah Ketua Komisi Fatwa MUI Ma’ruf Amin, Ketua Bidang Kerukunan Umat Beragama MUI Slamet Effendy Yusuf, Ketua Umum Matakin Wawan Wiratma, Sekretaris Dewan Rohaniwan Matakin Budi Santoso Tanuwibowo, serta sesepuh umat Konghucu Indonesia yang juga pakar filsafat dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Oesman Arief.

Diskusi dalam ICS secara keseluruhan akan terbagi dalam empat subtema, antara lain “Napak Tilas Jalur Sutra dan Relevansinya Terhadap Hubungan antara Kebudayaan Konghucu dan Islam”, serta “Titik Temu Agama Konghucu dan Islam dalam Perkembangan Keharmonisan Umat Beragama di Indonesia”. Tiap sesi dibagi dalam sejumlah dialog yang menghadirkan tokoh-tokoh terkemuka kedua agama.

Tokoh-tokoh yang dijadwalkan menjadi pembicara, antara lain Ketua Umum Muhammadiyah sekaligus Wakil Ketua MUI Din Syamsudin, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj, mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Direktur Harvard-Yenching Institute Tu Weiming, serta pakar Konghucu dari Institute of Chinese Studies-Universitas Tengku Abdu Rahman Malaysia, Tee Bon Cuan.

Mereka akan berbagi pandangan dan bertukar gagasan, mengenai bagaimana umat Konghucu dan Islam dapat menyumbangkan kontribusi dari nilai-nilai sejarah keharmonisan hubungan kedua agama, untuk membangun peradaban dunia yang lebih baik.

Harmonis

Ketua Bidang Kerukunan Umat Beragama MUI yang juga pencetus diselenggarakannya ICS, Slamet Effendy Yusuf, menerangkan pengalaman keharmonisan itulah yang menjadi inspirasi dasar dari diadakannya acara ini.

“Gagasan dasarnya adalah karena saya melihat konflik-konflik yang terjadi di dunia sekarang telah membuat sebagian orang percaya, bahwa peradaban manusia masa depan akan mengarah pada suatu benturan besar antarperadaban, clash of civilizations, padahal itu tidak benar. Islam dan Konghucu telah terbukti dalam sejarah dapat hidup rukun harmonis berdampingan. Kami di sini akan mengeksplor nilai-nilai dari pengalaman sejarah ini untuk membangun suatu antitesis dari paham clash of civilizations, bahwa dengan dialog dan kerja sama kita justru bisa membangun peradaban dunia yang mengarah ke dialogue of civilizations, ke perdamaian,” kata Yusuf kepada SH.

ICS akan ditutup besok dengan pengumuman hasil dialog kedua pihak. Pengumuman ini akan diberi nama “Pesan Jakarta”.

Yusuf mengatakan Pesan Jakarta intinya akan memuat hasil eksplorasi kedua pihak terhadap pengalaman sejarah keharmonisan hubungan mereka, yang nilai-nilainya kemudian diharap dapat memberi kontribusi relevan bagi berbagai situasi kekinian yang dihadapi Indonesia dan dunia, demi membangun tata dunia lebih damai. “Kerja sama dan persahabatan antarmanusia, no conflict no war,” tandas Yusuf.

Hal senada diungkapkan Koordinator Presidium Matakin, Chandra Setiawan. “Tujuan digelarnya ICS adalah mencari bagaimana umat Islam dan Konghucu dapat meningkatkan kontribusi dan sumbangsih bagi peradaban dunia, baik nasional maupun internasional,” kata Setiawan pada SH.

“Dalam sejarahnya, umat Islam dan Konghucu telah lama dikenal saling mengenal dan bersahabat. Kita ingat bagaimana misalnya dulu Laksamana Cheng Ho (pelaut terkemuka China abad 15 yang pernah berlayar ke Nusantara-red) yang beragama Islam tapi anak buahnya semua beragama Konghucu. Bahkan, seorang keturunan Cheng Ho ada yang beragama Islam dan dialah yang membangun menara salah satu masjid di Cirebon,” terang Chandra, sembari menambahkan bahwa dalam Konghucu ada prinsip, “Kawan-kawan datang dari jauh, bukankah itu menyenangkan?”

“Itulah sebabnya masyarakat Konghucu di China dulu tidak pernah keberatan dengan kedatangan dan kehadiran Islam. Hubungan keduanya menjadi sangat harmonis,” kata Chandra.

Ketua Dewan Rohaniwan Matakin, Haksu Tjhie Tjay Ing menambahkan, tujuan penting lain digelarnya ICS adalah keharmonisan antarumat beragama, khususnya antara Konghucu dan Islam.

“Yang penting adalah He Er Bu Tong atau harmonis meskipun tidak sama, rukun walau berbeda pandangan. Jangan sampai hubungan antarumat malah terbalik menjadi Tong Er Pu He, meskipun sama tapi tidak bisa rukun,” kata Tjhie.

Wakil Ketua Dewan Rohaniwan Matakin , Djaengrana Ongawijaya, mengharapkan ICS dapat membantu membangun hubungan yang makin harmonis antarseluruh umat beragama di Indonesia, agar nilai-nilai Pancasila juga semakin dilestarikan.

“Kami berharap hubungan lintas agama di Indonesia jadi lebih kondusif, jangan sampai dituduh negara-negara Barat hubungan antarumat di sini tidak harmonis. Bayangkan, Indonesia punya 17.000 pulau, 700 bahasa. Kalau hubungan antarumat makin harmonis tentu NKRI juga makin kuat. Jadi, kami berharap acara ini dapat turut membantu memperkokoh nilai-nilai Pancasila,” kata Djaengrana.


Sumber : Sinar Harapan http://shnews.co/detile-23848-konghucuislam-pererat-persahabatan.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar