SURABAYA, INDONESIA, Berita Agama Buddha - Prosesi upacara
kremasi bu Hana Lianawati ibunda bhiksu Viriyanadi sangat unik ada salib tapi
doa secara Buddhis. Meskipun berbeda keyakinan, keluarga tetap menghormati
ibundanya dan menjunjung toleransi beragama dengan berdoa sesuai keyakinan
masing-masing sebagai teladan masyarakat Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika.
Keunikan lain, saat
upacara menjelang keberangkatan jenasah dari Adi Jasa menuju krematorium Eka
Praya pembacaan doa versi Mahayana dengan tradisi Tiongkok anggota keluarga
para anak bersujud (pay kui) memberikan penghormatan terakhir di depan peti dan
memakai baju putih sebagai lambang kedukaan. Juga, menjelang dikremasikan
keluarga menyanyikan lagu favorit berjudul Hati Sebagai Hamba membahana lirih
di krematorium Eka Praya. Bhiksu Viriyanadi pun ikut menyanyikan lagu tersebut
bersama keluarga dengan fasih.“Salib tetap saya pasang di foto mama karena
manusia hidup di dunia memikul Salib adalah simbol penderitaan sama seperti
ajaran Buddhis hidup adalah penderitaan (Dukkha). Sedangkan untaian syair daku
datang ke dunia tak membawa apa-apa sama dengan ajaran Buddhis yaitu Annica.
Saya lihat ada kesamaan ajaran antara kristiani dengan buddhis sehingga
perbedaan agama jangan sampai merusak keharmonisan hubungan keluarga” jelas YM
bhiksu Viriyanadi Mahathera, Presidium Sangha Agung Indonesia.
Beliau menghimbau umat Buddhis agar tak terjerat
dalam fanatisme agama yang berlebihan dengan mengorbankan kerukunan dalam
keluarga. “Hari ini saya gembira dapat memberikan teladan kepada umat Buddhis
maupun Kristiani saling menghargai perbedaan agama dalam keluarga. Meskipun
mama berbeda kepercayaan dengan saya tetap menghormati mama yang terakhir
kalinya. Kami sebagai anak mohon maaf apabila mama semasa hidup jauh tak dapat
bersama tapi kami menyayangi mama tercinta. Semoga mama hidup bahagia di surga
Tusita bersama papa tersayang dan terlepas dari kelahiran kembali dunia” harap
bhiksu akrab disapa You Cing.
Kenangan terhadap jasa kebajikan ibunda tercinta selalu dikenang bhiksu Viriyanadi. “Di dunia ini tak ada manusia yang berbudi mulia, hanya mama tercinta yang rela berkorban demi anaknya mulai 9 bulan dalam kandungan kemudian lahir di dunia sejak kecil hingga dewasa. Sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada mama dengan cara menjaga nama baik keluarga dan merawat mama dengan baik. Wujudnya lagu Mama Hao dan Ai Cia Ai Pia merupakan lagu favoritku dalam kehidupan” kenang putra ketiga dari delapan bersaudara.
Iringan mobil jenasah sekitar 68 mobil pelayat dalam kota Surabaya memecahkan rekor biasanya maksimal 40 mobil. Seribuan umat Buddhayana dari berbagai kota se Indonesia ikut memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang ibu Hana Lianawati ibunda tercinta bhiksu sejuta umat Viriyanadi Mahathera. Selamat Jalan Ibunda Bhiksu Viriyanadi Mahathera!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar