Senin, 13 Oktober 2014

Para uskup Papua Nugini dan Salomon luncurkan Reksa Pastoral

Pada Misa baru-baru ini, para uskup Papua Nugini dan Kepulauan Solomon meluncurkan Reksa Pastoral untuk dijadikan panduan bagi umat mereka.
“Evangelisasi baru adalah inti dari Reksa Pastoral tersebut, termasuk pelayanan Pastoral untuk keluarga, orang miskin, pemuda, anak-anak jalanan, serta media dan berbagai masalah sosial,” kata Pastor Giorgio Licini, ketua Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Papua Nugini, kepada Catholic News Service.
Prioritas Reksa Pastoral ini disesuaikan dengan tantangan unik yang dihadapi masyarakat kedua negara kepulauan yang terletak di Melanesia tersebut.
Di Papua Nugini, hampir semua penduduk adalah Kristen, dan 27 persen adalah Katolik. Namun, belum banyak orang Kristen di sana mengintegrasikan iman mereka dan praktek adat dalam kehidupan beragama mereka.
Banyak umat Katolik Papua Nugini pribumi percaya pada sihir, dan mempertahankan praktek-praktek seperti kontrasepsi, aborsi, dan poligami.
Tahun 1945 Beato Peter To Rot, seorang katekis, dari negara itu, dibeatifikasi karena ia menjadi martir setelah menentang poligami.
Reksa Pastoral tersebut bertujuan menggarisbawahi pentingnya dan peran Injil dalam mengubah masyarakat Papua Nugini, terutama dalam memperbaiki praktek-praktek tradisional seperti poligami.
Uskup Agung Michael Banach, Duta Besar Vatikan untuk Papua Nugini dan Kepulauan Solomon, meluncurkan Reksa Pastoral dalam sebuah Misa pada 28 September di Paroki Maria, Penolong Orang Kristen di Goroka, Papua Nugini.
“Reksa Pastoral ini adalah untuk semua orang,” kata Uskup Agung Banach dalam homilinya.
Uskup Arnold Orowae dari Wabag, yang menjelaskan Reksa Pastoral tersebut, mengatakan, “Dunia dan Gereja berada di tengah-tengah krisis yang mendalam dan berkelanjutan, dan krisis ini  kita belum pernah mengalami sebelumnya.”
Uskup Orowae menyebutkan pengangguran yang dihadapi kaum muda, perceraian, dan munculnya korupsi dan kekerasan sebagai salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat Papua Nugini.
Dia mengamati, “Ada juga krisis identitas dalam kehidupan Imamat dan kehidupan Religius.”
Tujuan dari Reksa Pastoral ini, kata Uskup Orowae, “tidak hanya mendapatkan orang untuk menjadi Kristen atau Katolik, atau bahkan  selalu membuat orang untuk datang ke gereja … itu adalah tentang konsekuensi hidup dari iman kita akan Yesus Kristus dengan membawa nilai-nilai Injil, pengampunan, dan rekonsiliasi ke dalam hidup kita, tempat kerja kita, dan semua yang memiliki tanggung jawab sosial, ekonomi, dan politik kita.”
Pastor Linici menjelaskan kepada CNA bahwa Reksa Pastoral “adalah buah dari dua tahun studi, sharing, dan penelitian.”
Gereja Katolik telah mendapat kredibilitas di Papua Nugini dalam mempromosikan martabat manusia di bidang pendidikan, kesehatan, makanan, perumahan, dan amal sosial.

Sumber: ucanews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar