Pada Misa baru-baru ini, para uskup Papua Nugini dan Kepulauan
Solomon meluncurkan Reksa Pastoral untuk dijadikan panduan bagi umat mereka.
“Evangelisasi baru adalah inti dari Reksa Pastoral tersebut,
termasuk pelayanan Pastoral untuk keluarga, orang miskin, pemuda, anak-anak
jalanan, serta media dan berbagai masalah sosial,” kata Pastor Giorgio Licini,
ketua Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Papua Nugini, kepada Catholic
News Service.
Prioritas Reksa Pastoral ini disesuaikan dengan tantangan unik
yang dihadapi masyarakat kedua negara kepulauan yang terletak di Melanesia
tersebut.
Di Papua Nugini, hampir semua penduduk adalah Kristen, dan 27
persen adalah Katolik. Namun, belum banyak orang Kristen di sana
mengintegrasikan iman mereka dan praktek adat dalam kehidupan beragama mereka.
Banyak umat Katolik Papua Nugini pribumi percaya pada sihir, dan
mempertahankan praktek-praktek seperti kontrasepsi, aborsi, dan poligami.
Tahun 1945 Beato Peter To Rot, seorang katekis, dari negara
itu, dibeatifikasi karena ia menjadi martir setelah menentang poligami.
Reksa Pastoral tersebut bertujuan menggarisbawahi pentingnya dan
peran Injil dalam mengubah masyarakat Papua Nugini, terutama dalam memperbaiki
praktek-praktek tradisional seperti poligami.
Uskup Agung Michael Banach, Duta Besar Vatikan untuk Papua Nugini
dan Kepulauan Solomon, meluncurkan Reksa Pastoral dalam sebuah Misa pada 28
September di Paroki Maria, Penolong Orang Kristen di Goroka, Papua Nugini.
“Reksa Pastoral ini adalah untuk semua orang,” kata Uskup Agung
Banach dalam homilinya.
Uskup Arnold Orowae dari Wabag, yang menjelaskan Reksa
Pastoral tersebut, mengatakan, “Dunia dan Gereja berada di tengah-tengah krisis
yang mendalam dan berkelanjutan, dan krisis ini kita belum pernah mengalami
sebelumnya.”
Uskup Orowae menyebutkan pengangguran yang dihadapi kaum muda,
perceraian, dan munculnya korupsi dan kekerasan sebagai salah satu tantangan
yang dihadapi masyarakat Papua Nugini.
Dia mengamati, “Ada juga krisis identitas dalam kehidupan Imamat
dan kehidupan Religius.”
Tujuan dari Reksa Pastoral ini, kata Uskup Orowae, “tidak hanya
mendapatkan orang untuk menjadi Kristen atau Katolik, atau bahkan selalu
membuat orang untuk datang ke gereja … itu adalah tentang konsekuensi hidup
dari iman kita akan Yesus Kristus dengan membawa nilai-nilai Injil,
pengampunan, dan rekonsiliasi ke dalam hidup kita, tempat kerja kita, dan semua
yang memiliki tanggung jawab sosial, ekonomi, dan politik kita.”
Pastor Linici menjelaskan kepada CNA bahwa Reksa Pastoral “adalah
buah dari dua tahun studi, sharing, dan penelitian.”
Gereja Katolik telah mendapat kredibilitas di Papua Nugini dalam
mempromosikan martabat manusia di bidang pendidikan, kesehatan, makanan,
perumahan, dan amal sosial.
Sumber:
ucanews.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar