Minggu, 30 November 2014

Hak Sipil Agama Khonghucu



MAJELIS Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Provinsi Bali mengadakan Sosialisasi Hak-hak Sipil Agama Khonghucu di Kantor Kementrian Agama Kabupaten Tabanan,  Minggu
Sosialisai tersebut dihadiri Kabag TU,Ketua Matakin Provinsi Bali,Ketua Dewan Rohaniwan Khonghucu Provinsi Bali, Ketua Khongcu Bio Depasar dan warga Tionghoa yang tinggal di Kabupaten Tabanan.
Dalam sambutan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan yang diwakili Kabag TU,  Drs.Wayan Wirta M.Fil.H., menghimbau semua warga Tionghoa yang selama ini melakukan ritual Agama Khonghucu, seperti Tahun Baru Imlek, Cing Bing, King Ho Ping, Co Kong Tik dan ritual lainnya agar mau dan tidak takut menyatakan dirinya beragama Khonghucu,  bukan saja lewat ritual tapi yang paling penting mau merubah identitas diri di KTP. Sehingga,  dapat segera dibentuk Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Kabupaten Tabanan.
 Dengan dibentuknya MAKIN Kabupaten Tabanan nantinya semua pelayanan Hak Sipil Agama Khonghucu bisa dilayani dengan baik. Selama ini,  menurut data yang didapat dari Kantor Catatan Sipil Tabanan baru tiga orang,  masing-masing dari Penebel, Kediri dan Pupuan yang berani menyatakan dirinya beragama Khonghucu.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia Provinsi Bali, Adinata Lie. S.E.,  agar semua warga atau Etnis Tionghoa yang ada di Tabanan khususnya dan Bali pada umumnya tidak takut menyatakan dirinya beragama Khonghucu sesuai Ritual Agama Khonghucu yang dijalani dan diyakini para leluhurnya. Karena pemerintah sudah mengayomi warga Tionghoa yang dengan tegas dan berani menyatakan dirinya beragama Khonghucu.

Sumber                       :           Pos Bali

Kejujuran orang Bali Realita atau Mitos ?




Oleh : Ki Temes Saya teringat, ketika saya masih kecil, sekitar akhir tahun 50an, di kampung saya ada seorang laki-laki yang bangga sekali karena pernah dipenjara di Nusa Kambangan. Sebabnya karena ia mencuri seekor babi. Saya tidak tahu mengapa hanya karena mencuri seekor babi, seorang dipenjara di Nusa Kambangan? Apakah di Bali pada waktu itu tidak cukup penjaranya? Sekarang kita tahu, Nusa Kambangan adalah penjara tempat mengurung penjahat besar, seperti para gembong teroris, sekelas Iman Samudra, Amrozy, Ali Gufron dkk, pembunuh hakim agung, gembong narkotik dan sekelasnya. Tetapi pada waktu itu juga Nusa Kambangan telah memiliki nama besar dan ini dipahami dan dimanfaatkan oleh orang kampung saya itu. 

Setiap waktu dia ingin menunjukkan kewibawaannya terhadap orang lain, ia akan mengatakan : “Ne jeleme suba taen di Nusa Kambangan” (Ini manusia sudah pernah di Nusa Kambangan). Dan orang yang mendengar itu akan jerih dan ciut nyalinya. Tapi satu kali ia kena batunya. Ada orang yang berani bertanya. Ketika mantan narapidana ini ingin menunjukkan kuasa dengan kalimat ampuh “Ne jeleme……” orang yang berani itu segera memotong, “Memangnya kenapa sampai bapak di Nusa Kambangan?” Mantan narapidana ini diam. Mungkin dia malu dipenjarakan di Nusa Kambangan hanya karena mencuri seekor babi. Andaikata ia dipenjara di tempat jauh dan seram itu karena membunuh seorang jagoan yang mengacau desa, atau karena korupsi miliaran rupiah seperti pegawai pajak itu, barangkali dia tidak akan malu.

Seorang penceramah senior di Jakarta, sering kali mengungkapkan kebanggaannya akan kejujuran orang Bali. Coba lihat penjara-penjara di Bali, jarang narapidananya orang Bali. Kalau ada, biasanya karena pembunuhan, atau rebutan warisan, tidak ada karena pencurian atau perampokan, katanya.

Seorang kawan sekerja bertanya kepada saya tentang kejujuran orang Bali. Betulkah rumah-rumah di Bali tidak dikunci pintunya? Apa yang menyebabkan orang Bali jujur? Apakah itu masih ada sekarang ini? Saya jawab, dulu kalau ada orang mencuri dan tertangkap, dia akan diarak keliling desa dengan membawa barang hasil curiannya, diiringi gamelan bebonangan. Ini akan membuat si pencuri sangat malu. Dan ini akan membuat efek pencegahan bagi yang lain.

Memang benar rumah-rumah di kampung saya sampai sekarang tidak pernah dikunci pintunya, baik pintu gerbang untuk masuk pekarangan, maupun pintu kamarnya. Sepanjang ingatan saya, kami di rumah memang tidak pernah kecurian. Tetapi bukan tidak pernah kecurian sama sekali. Bapak saya pernah kehilangan seekor kucit (anak babi) di ladang. Pernah kehilangan buah vanili yang siap di panen, pernah kehilangan banyak ikan di kolam di sawah. Saya dan paman sendiri pernah mencuri bubu. Tapi ini ada unsur pembenarnya: kami marah dan tersing-  gung karena yang memasang bubu di sawah kami adalah orang dari lain desa. Sekalipun demikian tidak semua bubunya kami ambil, kami masih tinggalkan sebagian, karena si pemilik bubu berteriak dari seberang sungai, “jangan ambil semua pak. Itu untuk biaya sekolahkan saya.” Tentu yang terakhir ini tidak saya ceritakan ke teman kantor saya ini.

Sebaliknya seorang teman lain berkomentar agak sinis, ketika seorang kepala penjara di Denpasar malah masuk penjaranya sendiri karena sengaja melepaskan seorang nara pidana narkotik dari Australia. “Katanya orang-orang Bali orang-orang jujur,” kata teman ini. “Dia memang orang Bali, tetapi sudah bukan Hindu lagi,” kata saya waktu itu. Jawaban saya mungkin arogan, seolaholah bila orang Bali masih beragama Hindu, dia pasti tidak akan melakukan kejahatan. Atau paling sedikit orang Bali yang masih beragama Hindu lebih jujur dari orang yang beragama lain. Tapi bagaimana metode perbandingannya?

Seorang teman kantor yang lain lagi meminta saya menemaninya ke Bali, karena ada urusan ijin pembangunan sarana transmisi telekomunikasi. Saya mau saja, karena sekalian dapat pulang kampung. Ketika kami berangkat ke kantor kepala daerah, kawan ini membawa uang puluhan juta rupiah dalam tas plastic yang ditentengnya. Katanya uang itu bantuan operasional pemilu. Dia meminta saya agar menunggu di tempat parkir, tidak boleh ikut masuk, karena mungkin penyerahan “bantuan” ini akan gagal, barangkali pejabatnya malu kalau ada orang Bali yang ikut melihat transaksi ini. Dia masih berpikir positif, antara orang Bali tidak mungkin sogok menyogok. Itu perbuatan yang memalukan karena hukum karma yang mereka percayai. Begitu barangkali pikirnya.

Sekarang desas desus ramai sekali, bahwa seorang kepala daerah di Bali kerjanya hanya mengutip sogokan dari orang-orang yang ingin jadi pegawai, yang tentunya orang-orang Bali juga. Katanya untuk menjadi pegawai di pemda seorang sarjana harus bayar upeti sekitar 150 – 200 juta rupiah.

Ada kepala daerah yang memiliki pabrik miras, yang membuat teler orang-orang sekampungnya, dan dia dilaporkan oleh mantan ketua DPRD ke KPK, karena mark up pembelaian tanah untuk rumah sakit, tapi sampai sekarang tidak jelas ujungnya. Kepala daerah yang lain menjadikan anak dan istrinya sebagai calo proyek. Entah benar entah tidak. Yang sudah menjadi fakta hukum, karena sudah diadili dan dihukum adalah adik seorang bupati yang terlibat pembunuhan terhadap seorang wartawan, karena wartawan ini mengungkapkan kkn yang dilakukannya terkait proyek-proyek di kantor kakaknya. Ada pula seorang mantan bupati yang diadili karena korupsi. Yang lebih memprihatinkan lagi pencuri pratima (lambang Tuhan yang disucikan) di beberapa pura ternyata orang Bali sendiri, yang masih beragama Hindu, hanya penadahnya orang Italia.

Tetapi ada juga hal yang menggembirakan, yaitu kantor Wali Kota Denpasar merupakan kantor terbersih dari korupsi di antara kantor bupati dan kota di Indonesia, yagn disurvei oleh Transparansi Internasional Indonesia. Kantor ini memperoleh nilai tertinggi 6 dari skala 10. Jadi tidak bersihnya cuma atau tinggal 4

Belakangan ini ada dua orang Bali yang sering namanya masuk media massa, cetak dan elektronik, karena terkait korupsi. Yang satu seorang penjabat eselon dua di Kemennakertran, yang satu lagi seorang anggota DPR. Pejabat eselon dua ini, rupanya ketiban sial, terpaksa harus menerima uang titipan THR lebaran untuk menterinya, karena orang yang seharusnya menerima uang itu tidak datang pada saat pengusaha menyerahkannya. Dan ia tertangkap tangan oleh KPK. Yang menarik, sebuah surat kabar nasional ketika meliput rumah orang ini, menyebutkan, di rumahnya di Depok terdapat pura (maksudnya merajan). Boleh kita katakan, pejabat ini terlibat tindakan korupsi karena perintah atasannya. Ia sebenarnya orang Bali yang jujur, tetapi terpaksa melakukan tindakan tercela karena tekanan dari atasannya. Atau apologi yang lain.

Sedangkan yang anggota DPR kita ini diisukan terkait dengan kasus korupsi Muhammad Nazaruddin, yang menggegerkan Indonesia selama beberapa tahun belakangan ini. Sebelum menjadi anggota DPRRI, ia adalah seorang yang aktif dalam kegiatan umat Hindu. Setelah jadi anggota DPR ia sangat murah hati menyumbang untuk pura, untuk kegiatan PHDI, seperti dharma santi, misalnya. Orang-orang Bali yang mengenal sepak terjangnya, berkata, “kasihan dia.” Orang-orang Bali yang tidak mengenalnya, berkata, “Malu-maluin Bali saja.” Tetapi ada juga yang menanggapinya dengan guyonan hitam, “jangan-jangan panitia dharma santi akan diseret jadi saksi”.

Tulisannya ini dibuat dengan menghormati azas praduga tak bersalah. Kita hormati proses hukum, tetapi tetap memberi simpati kepada kawan yang tertimpa kesulitan, apapun sebabnya.

“Bukti terbesar dari ketidak-jujuran orang Bali adalah kecurangan dan pelanggaran moral yang dilakukan oleh oknum-oknum PHDI Bali, termasuk pandita, dalam Maha Sabha X yang lalu.”

Mungkin akan ada yang berkomentar tentang tulisan ini, seperti “mekecuh mot menek” (meludah ke atas – akibatnya akan menimpa muka sendiri). Tulisan ini hanya sekedar ajakan untuk mulat sarira, apakah kejujuran orang Bali suatu realitas atau hanya sekedar mitos? Apapun jawaban atas pertanyaan ini kita simpan saja dalam hati masing-masing.

Ini juga sebuah peringatan bagi orang-orang non-Bali, jangan berlebihan menganggap dan mengharap soal kejujuran orang Bali. Sekalipun Bali disebut Pulau Dewata, penghuninya secara sekala, yang kelihatan, bukanlah para dewata, tetapi manusia yang dibuat dari jiwa dan daging, purusa dan prakerti. Mereka adalah manawa yang ada sedikit di atas danawa dan sedikit pula di bawah dewata. Danawa menariknya ke bawah Dewata menariknya ke atas. Seperti para raksasa dan dewata yang berjuang satu sama lain merebut tirta amerta dalam mitologi pemutaran lautan susu. Siapakah yang akan menang? Yang menang adalah yang dipelihara dan diberi perhatian lebih banyak.


Sumber           :           Media Hindu

Toleransi Beragama Masyarakat ASEAN


Sejumlah 53 tokoh agama dari negara-negara di ASEAN, diantaranya Jo Priastana yang mewakili komunitas Buddhis Indonesia berkumpul bersama, bertukar pikiran dalam pertemuan dan seminar “The First Interfaith Dialogue on Religious Tolerance” yang berlangsung di Ayutthaya, Thailand, pada tanggal 24-29 September 2014 laluPertemuan ini merupakan pertemuan yang pertama kali diselenggarakan oleh Mahachulalongkorn-rajavidyalaya University (MCU) yang bekerjasama dengan The National Office of Buddhism dan Tourism Authority of Thailand.
Tujuannya adalah untuk mengupayakan suasana damai yang kondusif diantara komunitas ASEAN dalam bentuk ‘religious tolerance’ melalui Interfaith Dialogue of Religious Leaders for Peace in ASEAN Community. Peserta pertemuan adalah para pemimpin dan cendekiawan dari 9 dari 10 negara anggota ASEAN, yaitu: Thailand, Indonesia, Malaysia, Singapura, Cambodia, Laos, Filipina, Myanmar, dan Vietnam. Sedangkan Brunei Darussalam hanya diwakili oleh dua orang yang tidak mewakili pemerintahnya.
Jumlah total peserta pertemuan dalam acara yang digelar pertama kali itu sebanyak 53 orang, diantaranya wakil dari Indonesia, yaitu: Prof. Dr. B.S. Mardiatmadja, SJ (STAB Nalanda, Jakarta), Balwant Singh Rahal atau Ben Rahal (utusan Kaum Sikh, Jakarta), I Putu Gede Suyoga, ST, MSI (utusan Universitas Hindu, Denpasar), Dr. M. Amin Nurdin, MA (STAB Nalanda dan utusan dari Universitas Islam Negeri, Jakarta), Mohammad Monib, MA (STAB Nalanda, Jakarta dan Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace/ICRP), Jo Priastana, MA (STAB Nalanda, Jakarta), Ariya Karta Wijaya, BA. (STAB Nalanda, Jakarta), dan Dr. Ardi Kaptiningsih, MPH (STAB Nalanda, Jakarta).
Selain acara utama yang mendengarkan pandangan dan aspirasi dari para peserta mengenai masalah pluralisme agama dan kehidupan beragama yang toleran, acara juga diisi dengan melakukan kunjungan ke berbagai tempat ibadah, seperti vihara dan tempat ibadah agama Buddha, gereja (St. Joseph Church) dan masjid yang berada secara berdampingan di suatu wilayah. Kunjungan ke berbagai tempat ibadah memberikan gambaran adanya kehidupan beragama yang toleran yang telah diterapkan sejak lama di Thailand khususnya di propinsi Ayutthaya.
Pembukaan acara yang menampilkan panel berbagai pandangan tokoh agama Kristiani, Islam, Hindu, Sikh, dan Buddha. Panel yang dipimpin oleh President of the Los Angeles Buddhist Union diadakan di Mahachulalongkornrajavidyalaya University pada tanggal 26 September 2014. Acara ini dihadiri oleh pihak Universitas, Thailand Prime Minister Office, dan National Office of Buddhism.
Pembukaan dan sambutan tentang religious tolerance disampaikan oleh Rektor MCU, yang diikuti oleh perwakilan ASEAN yang menekankan pentingnya toleransi beragama di wilayah ASEAN, mengingat ada kecenderungan kericuhan antar-agama dan antar-sekte agama yang mengganggu kehidupan beragama yang damai.
Seminar masing-masing peserta diadakan pada tanggal 27 September 2014 di Hotel Classic Kameo, Ayutthaya, dibuka dengan sambutan dari Gubernur Ayutthaya. Dalam mengawali diskusi kelompok, peserta mendapat masukan tentang Religious Tolerance dari Asian Muslim Alliance Network (AMAN). The First Interfaith Dialogue on Religious Tolerance Ayutthaya menghasilkan “Ayutthaya Declaration” berisikan prinsip-prinsip toleransi kehidupan beragama untuk masyarakat agama ASEAN hidup berdampingan secara damai dan saling memahami.


Sumber            :           Buddhazine

Paus Fransiskus kecam ‘terorisme negara’ dan ‘sikap apatis’

Paus Fransiskus pada Selasa mengecam “terorisme negara” karena “orang-orang tidak bersalah dibunuh” dan sikap apatis Eropa terhadap kaum imigran.
Tidak jelas pernyataan itu ditujukan kepada siapa yang disampaikan Paus saat penerbangan kembali ke Vatikan dari kunjungan ke Parlemen Eropa dan Dewan Eropa di Strasbourg, Prancis.
Paus Argentina berusia 77 tahun itu menanggapi pertanyaan kompleks termasuk ancaman yang dilakukan oleh kelompok-kelompok seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
“Ada ancaman lain, yakni terorisme negara,” kata Paus, menyikapi apa yang terjadi  yang menimbulkan krisis internasional.
“Setiap negara, ada bagiannya sendiri, merasa berhak untuk membantai.  Begitu banyak orang tak berdosa tewas pada waktu yang sama akibat aksi teroris tersebut,” katanya, seraya menambahkan, “Ini adalah jenis anarki tingkat tinggi yang sangat berbahaya.”
Komentar Paus bisa ditafsirkan sebagai mengacu pada tindakan oleh sejumlah negara, termasuk upaya Suriah untuk menghancurkan para pemberontak Islam, tindakan AS terhadap ISIS, dan serangan pesawat tanpa awak di Afghanistan/Pakistan, atau operasi militer Israel terhadap militan Palestina.
Para pengamat Vatikan mempelintir pernyataan pemimpin Gereja Katolik itu yang dibuat pada Agustus setelah kembali dari kunjungannya ke Korea Selatan yang secara luas ditafsirkan sebagai menyarankan tindakan militer terhadap ISIS dapat dibenarkan oleh teologi Kristen.
Pada Selasa, Paus Fransiskus mengatakan: “Kita harus memerangi terorisme. Tapi, kalau Anda menghentikan penyerang yang tidak adil, itu harus dilakukan dengan konsensus internasional, bukan negara itu sendiri yang menghentikan penyerang yang tidak adil ini.”
Paus Fransiskus mengadakan perjalanannya selama empat jam merupakan sebuah perjalanan tersingkat ke luar negeri. Ia mengkritisi pertumbuhan nasionalisme dan sentimen anti-imigrasi yang telah meningkat di Eropa di tengah stagnasi ekonomi dan pengangguran.
“Ide-ide besar yang pernah terinspirasi oleh Eropa tampaknya telah kehilangan daya tarik, karena digantikan oleh aspek-aspek teknis birokrasi lembaga,” kata dia.
Ia menyerukan semua pihak untuk “merespon” para imigran yang menderita akibat melarikan diri dari Timur Tengah dan Afrika. Tahun ini saja lebih dari 3.200 di antaranya memilih untuk meninggal negara mereka dan berusaha  mencapai Eropa.
“Kita tidak boleh membiarkan orang mati di tengah Laut Mediterania yang luas,” katanya, seraya menambahkan, “Perahu mendarat setiap hari di pantai Eropa dipenuhi dengan pria dan wanita yang membutuhkan penerimaan dan bantuan.”
Lonceng terdengar dari gereja-gereja di seluruh Strasbourg untuk menandai kunjungannya, termasuk katedral bersejarah, dimana ratusan menyaksikan pidatonya di layar raksasa.
“Bapa Suci datang dengan membawa pesan perdamaian. Dia datang untuk berbicara dengan anggota parlemen untuk membangun Eropa bersatu,” kata Melanie Makougang, seorang dari Kamerun.
Presiden Parlemen Eropa Martin Schulz, yang menyambut Paus Fransiskus ke gedung besar berkaca dan baja, mengatakan kunjungannya penting pada saat “kekurangan kepercayaan yang luar biasa terhadap lembaga-lembaga Eropa”.
Dalam pidatonya kepada Dewan Eropa, Paus Fransiskus tampaknya menyinggung krisis di Ukraina, seraya menyerukan “solusi politik” untuk mengakhiri ketegangan di Eropa.
“Berapa banyak korban lagi akibat penderitaan dan kematian masih terjadi di benua ini?” tanyanya.


Sumber           :           Ucanews

Terus Boikot Produk ‘Israel’ dan Pendukungnya!

Sahabat Al Aqsha–Pakar ekonomi mengkritik kemunduran aksi boikot produk penjajah zionis setelah perang di Gaza berakhir. Direktur Humas dan Informasi Sektor Industri dan Perdagangan di Gaza, Dr. Maher Atthaba mengatakan, pemboikotan terhadap produk penjajah zionis termasuk kewajiban yang harus kita tunaikan dan merupakan bentuk perlawanan kita kepada penjajah zionis.
Dr. Atthaba menjelaskan, aksi boikot sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Akan tetapi, aksi ini hanya “musiman” sehingga tidak memberikan dampak besar bagi perekonomian penjajah.
“Aksi ini harus dilakukan secara berkesinambungan. Jika tidak, maka tidak akan memberikan tekanan pada perekonomian penjajah. Terlebih sekarang ini terjadi penurunan setelah perang berakhir.”
Atthaba meyakini, aksi boikot ini akan lebih efektif dan memberikan dampak besar jika mendapat dukungan dari rakyat, media dan pemerintah.
“Aksi boikot ini perlu perhatian khusus dan didukung rakyat, media dan pemerintah. Kemudian, ganti produk-produk penjajah dengan produk lokal, Arab maupun produk lain dengan kualitas yang lebih baik dan murah. Dengan demikian, meringankan beban rakyat Palestina dan tidak menzhalimi mereka.”
Menurutnya, jika aksi ini berhasil maka akan memukul perekonomian penjajah dan menyebabkan kerugian besar, terutama pada sektor ekspor yang dalam setahun bisa mencapai 90 miliar dolar.
Ia menyerukan untuk memfokuskan boikot di beberapa negara Eropa yang sudah memberlakukan kebijakan boikot ini. Ia yakin hal itu akan memberikan dampak besar bagi perekonomian penjajah.
Ia juga meyakini bahwa penjajah zionis akan mengalami kerugian besar dengan aksi boikot di Palestina. Karena, pasar Palestina merupakan pasar ke dua penjajah untuk menjual produk-produknya. Dalam setahun sekitar 3,5 miliar dolar masuk ke kantong penjajah dari pembeli Palestina.
Dr. Atthaba juga menyerukan kepada seluruh dubes Palestina agar menjalankan perannya dan menyerukan aksi boikot ini dengan membeberkan kekejaman dan kebrutalan penjajah zionis kepada rakyat Palestina dalam beberapa tahun ini.
“Kita harus menyiapkan langkah-langkah dengan dukungan ekonomi, media dan pemerintah untuk memastikan bahwa aksi boikot ini memberikan dampak besar bagi penjajah. Kita juga perlu meningkatkan ekonomi Palestina, terutama melalui sektor ekspor produk Palestina.”
Ia juga menekankan, perlunya digunakan alat untuk memonitor dan memantau berapa kerugian penjajah dengan statistik dan angka setelah dilakukan aksi boikot, baik lokal maupun secara global. Hal itu untuk mengukur seberapa besar dampak aksi boikot dalam memengaruhi ekonomi penjajah.*

Sumber                       :           Hidayatullah

Kain Kafan Turin Untuk Membungkus Jasad Yesus Ternyata Palsu ?




Kain kafan Turin atau Shroud of Turin, konon adalah kain kafan yang digunakan untuk membungkus jasad Yesus setelah disalibkan. Kain itu istimewa, ia memiliki citra samar dari darah, pria tinggi berambut panjang dan berjenggot. Darah tercetak jelas terutama di bagian pergelangan tangan dan pergelangan kaki, sesuai dengan posisi paku pada tubuh Yesus ketika disalib. Namun, artefak ini telah menjadi perdebatan selama berabad-abad.

Polemik mencuat saat uji karbon tahun 1988 yang menyatakan bahwa kain itu dibuat antara tahun 1260 sampai 1390, jauh setelah kematian Yesus. Hal ini juga diungkapkan oleh ahli seni Italia, Luciano Buso baru-baru ini. Dia mengatakan bahwa kain yang kini tersimpan di Katedral Turin itu merupakan replika, bukan yang asli. Itu adalah hasil karya seniman abad pertengahan, Giotto. Dia mendapatkan kesimpulan ini setelah melakukan penelitian berbulan-bulan terhadap foto kain kafan tersebut. Ia tak bisa menyentuh kain itu langsung karena kain itu tidak akan dikeluarkan kecuali ada acara khusus. Namun, dasar teorinya didasarkan adanya angka 15 yang terselubung di kain tersebut. Menurutnya, itu adalah indikasi Giotto membuatkan tiruan itu pada tahun 1315.

Menurutnya, adalah hal yang biasa bagi seniman di jaman itu untuk membubuhkan tanggal di karya mereka untuk menjamin keaslian karyanya. Meski demikian, praktek ini hanya diketahui segelintir orang tertentu untuk menghindari pemalsuan. Menurutnya, Giotto tak bermaksud memalsukan apapun, ini terlihat jelas dari alasan kenapa dia membubuhkan tahun pembuatannya. Buso berspekulasi pihak gereja yang meminta kepada Giotto, mengingat kondisi kain asli yang memburuk dan akhirnya binasa selama berabad-abad. Giotto tenar ketika karyanya berupa lukisan dinding yang menggambarkan kehidupan Bunda Maria dan Yesus mendekorasi Kapel Scrovegni di Padua.

Namun, Profesor Bruno Barberis, direktur Shroud Museum berpendapat, “Saya pikir teori ini konyol.” Pihak museum yakin, citra darah yang tertera dalam kain tersebut bukan dihasilkan dari metode artistik. “Kami yakin, imej yang ada dalam kain ini dibentuk oleh jasad seorang pria yang disiksa lalu disalib. Bagaimanapun perlu sejumlah tes untuk membuktikan apakah kain ini asli,” katanya.

Kain ini menjadi perhatian banyak orang. Tahun lalu, Paus Benediktus berlutut selama beberapa menit di depan kain itu, saat dipamerkan untuk kelima kalinya dalam kurun waktu 100 tahun. bahkan diktator Jerman, Adolf Hitler konon sangat terobsesi dan berniat mencurinya. Kain kafan yang diberikan oleh Duke of Savoy kepada Uskup Agung Turin pada 1578 ini, bisa jadi bukti nyata kain kafan Tuhan Yesus dan bisa jadi bukan. Tapi hal ini membuktikan, dari dahulu sampai sekarang Yesus pernah ada di dunia ini, itulah sebabnya begitu banyak bukti maupun replika untuk menunjukkan kehadiran-Nya dan ini berarti Yesus adalah Tuhan yang layak disembah.



Sumber           :           Forum Kristen