Di tengah kultur politik yang labil dan tunamoral,
bangsa Indonesia membutuhkan pencerahan spiritual dari tokoh-tokoh agama.
Bangsa ini harus cepat ”siuman” sebagai manusia bermartabat tinggi sesuai sila
kedua Pancasila, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad
Syafii Maarif mengungkapkan hal itu dalam acara Peluncuran Buku dan Refleksi
”Agama, Moral, dan Masa Depan Bangsa” memperingati 80 tahun Kardinal Julius
Darmaatmadja SJ, di Bentara Budaya Jakarta, Sabtu (10/1).
Hadir juga sebagai pembicara mantan Ketua Umum
Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Pendeta Andreas Yewangoe dan Kepala
Sangha Theravada Indonesia Biksu Sri Pannavaro Mahathera. Diskusi dipandu Wakil
Pemimpin Umum Kompas Rikard Bagun.
Buku yang diluncurkan itu adalah Terlahir untuk
Mengabdi, ditulis L Murbandono Hs dan Agustinus H; Alam Pikiran dan Kharisma,
ditulis RBE Agung Nugroho, Yohanes Prayogo, dan Maria Dewi, serta Di Mata Para
Sahabat, disunting Agustinus Surianto H. Ketiga buku tersebut diterbitkan oleh
Penerbit Obor.
Menurut Syafii Maarif, agama di tangan pengikutnya yang
terlepas dari kawalan moral juga bisa menjadi sumber kegaduhan dan konflik.
”Kemanusiaan adalah tunggal dan tak dapat dipecah. Siapa
pun yang ditimpa malapetaka perlu ditolong, tanpa melihat latar belakang agama,
suku, dan warna kulit,” ucap Syafii Maarif.
Pendeta Andreas membedakan antara orang beragama dan
orang yang sekadar mempunyai agama. ”Mempunyai agama hanyalah sekadar kulit,
misalnya agama yang dicantumkan di KTP (kartu tanda penduduk) atau agama yang
bisa dimanipulasi secara politik, dipakai para politisi untuk meraih suara,”
katanya.
Nilai-nilai agama semestinya tertanam di jiwa sanubari
sehingga mewujud dalam sikap baik. Jika orang beragama hanya mementingkan
ritus, kredo, atau ibadah, hal itu tidak memberikan manfaat apa pun bagi
kehidupan. ”Marilah kita beragama tidak secara dangkal, tetapi bermanfaat bagi
kepentingan semua orang,” ujarnya.
Mendidik bangsa
Biksu Sri Pannavaro yakin, meski punya teologi
berbeda-beda, semua agama mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan universal dan
moral etik untuk mendidik bangsa agar berperilaku baik.
”Dengan landasan ini, kita bertekad membangun moral
bangsa ini demi masa depan yang lebih baik,” ucap biksu yang menjadi Kepala
Wihara Mendut, Magelang, Jawa Tengah, itu.
Uskup Agung Jakarta Mgr I Suharyo tetap optimistis
Indonesia bisa berkembang maju. Perjuangan agama dan moral para tokoh lintas
agama mencerminkan cita-cita bangsa. ”Kita masih punya harapan titik-titik
cahaya di ujung lorong sana,” katanya.
Acara peluncuran buku dan refleksi ini diselingi
penampilan duet saksofonis Didik SSS dengan putrinya, Lourdes Callista (flute),
serta pembacaan puisi oleh penyair Joko Pinurbo.
Hadir juga sejumlah tokoh, antara lain Pemimpin Umum
Kompas Jakob Oetama, mantan menteri era Orde Baru JB Sumarlin, Uskup Emeritus
Mgr Blasius Pujaraharja, dan Uskup Emeritus FX Hadisumarto OCarm.
Sumber : Kompas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar