Front Pembela Islam (FPI), yang
mendesak dicopotnya gubernur DKI Jakarta yang berasal dari etnis Tionghoa ini,
menghasut kebencian dan anti-demokrasi, para kritikus mengatakan.
Para anggota
organisasi-organisasi Islam yang berpengaruh dan partai-partai politik mencela
ajakan kebencian oleh kelompok Islam garis keras ini untuk “mengukuhkan”
gubernur Jakarta tandingannya sendiri dan mencopot Basuki
"Ahok" Tjahaja Purnama , gubernur saat ini yang
keturunan Kristen-Tionghoa.
Front Pembela
Islam (FPI) pada 1 Desember menyatakan bahwa mereka dan kelompok-kelompok
aktivis garis keras lainnya membentuk "Presidium Penyelamat Jakarta"
untuk mencopot Ahok dari jabatannya. Presidium ini segera bergerak untuk“melantik”
Fahrurozzi Ishak sebagai
kepala eksekutif daerah ibukota Indonesia.
Lutfi Hakim, yang
memimpin Forum Betawi Rempug (FBR), memimpin upacara “sumpah jabatan”
Fahrurozzi di luar Balai Kota, yang ditonton ratusan pendukung.
"Kami menolak
kepemimpinan Ahok. Dia tidak mewakili warga Jakarta. Kami akan memilih gubernur
baru yang peduli tentang Islam dan warganya, bukan Ahok," ujar Muhammad
Rizieq Shihab, pemimpin penghasut FPI, dalam aksi unjuk rasa itu.
Dalam beberapa
pekan terakhir, FPI menggelar aksi unjuk rasa di pusat kota Jakarta, menuntut
seorang Muslim untuk menggantikan Ahok, yang baru menjadi gubernur Jakarta pada
tanggal 19 November. Ahok adalah orang pertama dari etnis minoritas Tionghoa
dan orang kedua dari minoritas Kristen yang memegang jabatan tersebut.
Ahok menanggapi
dengan mengancam akan merekomendasikan pembubaran FPI kepada pemerintah
Indonesia, karena pameran intoleransi di depan publik seperti itu melanggar UUD
dan melanggar prinsip-prinsip pendirian dasar negara, yaitu Pancasila .
Pemimpin NU: "Mereka seharusnya tidak menyebutkan Islam untuk aksi
mereka"
"Agama kami
(Islam) mengajarkan toleransi, tetapi semua tindakan FPI bertentangan dengan
toleransi. Lebih penting lagi, tindakan FPI itu melanggar hukum," jelas
Basuki Subriyanto, anggota Partai Amanat Nasional (PAN) yang berbasis Islam,
kepada Khabar Southeast Asia.
Para pemimpin
kelompok-kelompok Muslim besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan komentator
lainnya mengecam upaya kelompok garis keras ini untuk menghasut sentimen publik
terhadap Ahok.
Kepala Dakwah NU,
Abdul Manan Ghani, menjelaskan bahwa hal ini tidak dapat diterima.
"NU akan
terus mendukung UUD Indonesia, dan penunjukan Ahok adalah legal dan sesuai
dengan UUD kita. Bagi mereka yang menentang hal ini, mereka juga menentang
NU," katanya kepada Khabar.
Dia menambahkan:
"Mereka seharusnya tidak menyebutkan Islam untuk aksi mereka. Agama kami
hanya menawarkan cara-cara damai, bahkan dalam situasi sulit sekalipun. FPI
tidak memiliki hasrat tersebut..."
FPI tentu memiliki
hak untuk mengutarakan pendapat mereka, tetapi mereka harus melakukannya dengan
cara yang demokratis, menurut Fajar Riza ul-Haq, Direktur Eksekutif MAARIF
Institute for Culture and Humanity.
"Sudah jelas
bahwa FPI tidak memiliki sikap seperti itu. Mereka tidak menawarkan penjelasan
maupun usulan untuk dialog, atau apa pun secara demokratis. Saya telah
mengamati bahwa semua tindakan mereka mengekspresikan kebencian agama dan
politik," katanya kepada Khabar .
Kata-kata dan tindakan FPI
dan kelompok yang mendukungnya mencerminkan pandangan minoritas kecil, Fajar
menambahkan.
"Mayoritas warga Jakarta dan
Indonesia menerima nilai-nilai demokrasi. Kami ingin terus memajukan pluralisme
dan membatasi tindakan kekerasan seperti ini," katanya. "FPI, sejauh
ini, hanya menyebarkan kebencian di antara pemeluk agama dan ras."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar