Paus Fransiskus pada Selasa mengecam “terorisme negara”
karena “orang-orang tidak bersalah dibunuh” dan sikap apatis Eropa terhadap
kaum imigran.
Tidak jelas pernyataan itu ditujukan kepada siapa yang
disampaikan Paus saat penerbangan kembali ke Vatikan dari kunjungan ke Parlemen
Eropa dan Dewan Eropa di Strasbourg, Prancis.
Paus Argentina berusia 77 tahun itu menanggapi
pertanyaan kompleks termasuk ancaman yang dilakukan oleh kelompok-kelompok
seperti Islamic State
of Iraq and Syria (ISIS).
“Ada ancaman lain, yakni terorisme negara,” kata Paus,
menyikapi apa yang terjadi yang menimbulkan krisis internasional.
“Setiap negara, ada bagiannya sendiri, merasa berhak
untuk membantai. Begitu banyak orang tak berdosa tewas pada waktu yang
sama akibat aksi teroris tersebut,” katanya, seraya menambahkan, “Ini adalah
jenis anarki tingkat tinggi yang sangat berbahaya.”
Komentar Paus bisa ditafsirkan sebagai mengacu pada
tindakan oleh sejumlah negara, termasuk upaya Suriah untuk menghancurkan para
pemberontak Islam, tindakan AS terhadap ISIS, dan serangan pesawat tanpa awak
di Afghanistan/Pakistan, atau operasi militer Israel terhadap militan
Palestina.
Para pengamat Vatikan mempelintir pernyataan pemimpin
Gereja Katolik itu yang dibuat pada Agustus setelah kembali dari kunjungannya
ke Korea Selatan yang secara luas ditafsirkan sebagai menyarankan tindakan
militer terhadap ISIS dapat dibenarkan oleh teologi Kristen.
Pada Selasa, Paus Fransiskus mengatakan: “Kita harus
memerangi terorisme. Tapi, kalau Anda menghentikan penyerang yang tidak adil,
itu harus dilakukan dengan konsensus internasional, bukan negara itu
sendiri yang menghentikan penyerang yang tidak adil ini.”
Paus Fransiskus mengadakan perjalanannya
selama empat jam merupakan sebuah perjalanan tersingkat ke luar negeri. Ia
mengkritisi pertumbuhan nasionalisme dan sentimen anti-imigrasi yang telah
meningkat di Eropa di tengah stagnasi ekonomi dan pengangguran.
“Ide-ide besar yang pernah terinspirasi oleh Eropa
tampaknya telah kehilangan daya tarik, karena digantikan oleh aspek-aspek
teknis birokrasi lembaga,” kata dia.
Ia menyerukan semua pihak untuk “merespon” para imigran
yang menderita akibat melarikan diri dari Timur Tengah dan Afrika. Tahun ini
saja lebih dari 3.200 di antaranya memilih untuk meninggal negara mereka dan
berusaha mencapai Eropa.
“Kita tidak boleh membiarkan orang mati di tengah Laut
Mediterania yang luas,” katanya, seraya menambahkan, “Perahu mendarat setiap
hari di pantai Eropa dipenuhi dengan pria dan wanita yang membutuhkan penerimaan
dan bantuan.”
Lonceng terdengar dari gereja-gereja di seluruh
Strasbourg untuk menandai kunjungannya, termasuk katedral bersejarah, dimana
ratusan menyaksikan pidatonya di layar raksasa.
“Bapa Suci datang dengan membawa pesan perdamaian. Dia
datang untuk berbicara dengan anggota parlemen untuk membangun Eropa bersatu,”
kata Melanie Makougang, seorang dari Kamerun.
Presiden Parlemen Eropa Martin Schulz, yang menyambut
Paus Fransiskus ke gedung besar berkaca dan baja, mengatakan kunjungannya
penting pada saat “kekurangan kepercayaan yang luar biasa terhadap
lembaga-lembaga Eropa”.
Dalam pidatonya kepada Dewan Eropa, Paus Fransiskus
tampaknya menyinggung krisis di Ukraina, seraya menyerukan “solusi politik”
untuk mengakhiri ketegangan di Eropa.
“Berapa banyak korban lagi akibat penderitaan dan
kematian masih terjadi di benua ini?” tanyanya.
Sumber : Ucanews
Tidak ada komentar:
Posting Komentar