Minggu, 30 November 2014

Paus Fransiskus kecam ‘terorisme negara’ dan ‘sikap apatis’

Paus Fransiskus pada Selasa mengecam “terorisme negara” karena “orang-orang tidak bersalah dibunuh” dan sikap apatis Eropa terhadap kaum imigran.
Tidak jelas pernyataan itu ditujukan kepada siapa yang disampaikan Paus saat penerbangan kembali ke Vatikan dari kunjungan ke Parlemen Eropa dan Dewan Eropa di Strasbourg, Prancis.
Paus Argentina berusia 77 tahun itu menanggapi pertanyaan kompleks termasuk ancaman yang dilakukan oleh kelompok-kelompok seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
“Ada ancaman lain, yakni terorisme negara,” kata Paus, menyikapi apa yang terjadi  yang menimbulkan krisis internasional.
“Setiap negara, ada bagiannya sendiri, merasa berhak untuk membantai.  Begitu banyak orang tak berdosa tewas pada waktu yang sama akibat aksi teroris tersebut,” katanya, seraya menambahkan, “Ini adalah jenis anarki tingkat tinggi yang sangat berbahaya.”
Komentar Paus bisa ditafsirkan sebagai mengacu pada tindakan oleh sejumlah negara, termasuk upaya Suriah untuk menghancurkan para pemberontak Islam, tindakan AS terhadap ISIS, dan serangan pesawat tanpa awak di Afghanistan/Pakistan, atau operasi militer Israel terhadap militan Palestina.
Para pengamat Vatikan mempelintir pernyataan pemimpin Gereja Katolik itu yang dibuat pada Agustus setelah kembali dari kunjungannya ke Korea Selatan yang secara luas ditafsirkan sebagai menyarankan tindakan militer terhadap ISIS dapat dibenarkan oleh teologi Kristen.
Pada Selasa, Paus Fransiskus mengatakan: “Kita harus memerangi terorisme. Tapi, kalau Anda menghentikan penyerang yang tidak adil, itu harus dilakukan dengan konsensus internasional, bukan negara itu sendiri yang menghentikan penyerang yang tidak adil ini.”
Paus Fransiskus mengadakan perjalanannya selama empat jam merupakan sebuah perjalanan tersingkat ke luar negeri. Ia mengkritisi pertumbuhan nasionalisme dan sentimen anti-imigrasi yang telah meningkat di Eropa di tengah stagnasi ekonomi dan pengangguran.
“Ide-ide besar yang pernah terinspirasi oleh Eropa tampaknya telah kehilangan daya tarik, karena digantikan oleh aspek-aspek teknis birokrasi lembaga,” kata dia.
Ia menyerukan semua pihak untuk “merespon” para imigran yang menderita akibat melarikan diri dari Timur Tengah dan Afrika. Tahun ini saja lebih dari 3.200 di antaranya memilih untuk meninggal negara mereka dan berusaha  mencapai Eropa.
“Kita tidak boleh membiarkan orang mati di tengah Laut Mediterania yang luas,” katanya, seraya menambahkan, “Perahu mendarat setiap hari di pantai Eropa dipenuhi dengan pria dan wanita yang membutuhkan penerimaan dan bantuan.”
Lonceng terdengar dari gereja-gereja di seluruh Strasbourg untuk menandai kunjungannya, termasuk katedral bersejarah, dimana ratusan menyaksikan pidatonya di layar raksasa.
“Bapa Suci datang dengan membawa pesan perdamaian. Dia datang untuk berbicara dengan anggota parlemen untuk membangun Eropa bersatu,” kata Melanie Makougang, seorang dari Kamerun.
Presiden Parlemen Eropa Martin Schulz, yang menyambut Paus Fransiskus ke gedung besar berkaca dan baja, mengatakan kunjungannya penting pada saat “kekurangan kepercayaan yang luar biasa terhadap lembaga-lembaga Eropa”.
Dalam pidatonya kepada Dewan Eropa, Paus Fransiskus tampaknya menyinggung krisis di Ukraina, seraya menyerukan “solusi politik” untuk mengakhiri ketegangan di Eropa.
“Berapa banyak korban lagi akibat penderitaan dan kematian masih terjadi di benua ini?” tanyanya.


Sumber           :           Ucanews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar